Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 33:59).


Personal
Hobbies Blogs - Blog Rankings Web Directory
Top Blogs blog-indonesia.com

Perisai Diri it's My Style

(16 Januari 2011) Ini adalah moment dimana saat itu diadakan syuro' mengenai keorganisasian dan dilanjutkan dengan pengaplikasian/penerapan serta pembenaran sikap yang dibimbing langsung oleh Dewan Pendekar

Class Meet Kelas X(X-4)

Moment ini diambil saat class meet kelas X,ini sedang beristirahat melepas lelah setelah tanding futsal dengan kakak kelas S-2 yang kelasku habis dibantai dengan skor 6-1

We are the Champion

Team futsal kebanggan kelas Sinfony(Science Four Community) yang beranggotakan Denta,Dimas,Hendi,Herlambang,Rega,Nugroho,Rizal,Shella,Tabah dan Jeff yang Alhamdullilah atas Ridhlo Allah SWT bisa mempertahankan gelar juara 1 Classmeet Futsal 2x berturut-turut

Pentas Seni SMANESA Season II

Moment ini diambil saat aku masih kelas XI tepatnya XI-A4, Salah satu kenang-kenangan yang indah

Keluarga Besar Kampung Sinfony

Keluarga besar sinfony saat merayakan kemenangan classmeet futsal semester 2

www.voa-islam.com
Tampilkan postingan dengan label Tanya jawab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanya jawab. Tampilkan semua postingan

Fakta Kepalsuan Pacaran?





SINFONY CREW
1.Sifat Asli Takkan Ditemui
Boleh jadi kamu beralasan pacaran untuk mengenal sifat atau karakter pasangan itu sendiri.Tahukah kamu? Sifat asli akan muncul saat seseorang dalam keadaan panik, kesal, marah,  dalam sedang menghadapi masalah, dan dalam keadaan pikiran kacau. Jika dalam kondisi apapun itu meski buruk suasana hati tentu tidak akan melampiaskan kemarahan atau kekesalan kepada kita tanpa alasan yang jelas. Sedang kebanyakan orang saat suasana hati buruk pacarlah yang jadi sasarannya dianggap orang yang mengerti sekalipun bersikap atau memperlakukan buruk terhadapnya, picik sekali memang alasan ini. Janganlah tertipu saat seseorang dalam kondisi suasana hati baik bisa memperlakukan kita dengan baik saat kondisi suasana hatinya buruk juga. Sebab, antara suasana hati baik dan buruk dipengaruhi oleh sifat bawaan yang terbentuk menjadi nilai sikap hidup dalam memandang dan menghadapi masalah yang ditemui. Dalam kondisi suasana hati baik seseorang bisa melakukan manupulasi diri alias bersikap pura-pura dalam menyenangkan hati pacarnya, sedang dalam kondisi suasana hati buruk sulitlah untuk bersikap pura-pura sebab keadaan dirinya sedang bermasalah sehingga harus menghadapi tekanan, menenangkan pikiran yang mengganggu, dalam menentukan sikap hidup yang jadi acuannya. Padahal konflik-konflik itu selalu ada dalam menjalani hubungan, sekalipun sudah menikah malah bisa jadi godaan dan tantangan dalam mempertahankan hubungan lebih besar yang akan dihadapi sebab ada Masa Rawan 1, Masa Rawan 2, dan Masa Rawan 3 yang harus dilewati.

          Sebagai gambaran jelasnya seperti yang diungkap oleh Rohmadi Rusdi dalam bukunya berjudul Manipulasi Hidup: Tragedi Harta, Tahta, dan Wanita (1995:70-72):

          Masa Rawan 1
          Terjadi pada tahun pertama perkawinan. Pada masa ini masing-masing pihak masih dalam proses penyesuaian diri. Dua pribadi yang berangkat dari latar belakang berbeda bertemu untuk menegakkan sebuah harapan yang lebih kerap berupa impian dan khayalan. Betapa dahulu sebelum memasuki gerbang perkawinan, harapan-harapan senantiasa melambung, memadu kasih sepanjang waktu untuk mewujudkan keluarga bahagia sejahtera bersama kekasih yang selama ini dipuja siang dan malam. Kekasih yang mempunyai kebaikan semata tanpa terlihat memiliki kejelekan.

          Akan tetapi, setelah saling memiliki, setelah bulan madu usai, pesona yang dahulu terpancar, lambat laun kian meredup atau bahkan pudar sama sekali. Kekasih yang dulu tampak tidak mempunyai cacat secuil pun sedikit demi sedikit tersibak dan kemudian terlihatlah wajah aslinya. Lantas, menghadapi kenyataan yang dianggapnya tak seindah tujuan semula, kalau terus menerus terbuai pada angan-angan, maka timbullah penyesalan. Merasa dirinya salah pilih, merasa ditipu dan dijebak. Jika masing-masing pelaku tidak dapat mengendalikan emosinya, kiranya dapat ditebak apa yang akan menimpa rumah tangga mereka.

          Masa Rawan 2
          Terjadi pada tahun ketujuh perkawinan. La Rose menamakannya sebagai the seven year itch, atau kegelisahan pada tahun ketujuh. Pada masa ini suami-isteri tiba-tiba merindukan sesuatu yang lain dan baru. Keduanya menginginkan garah baru. Masa rawan 2kedua ini akan sangat berpengaruh pada pasangan-pasangan yang hidupnya monoton, rutin tanpa variasi yang berarti. Gairah cinta mereka seolah-olah padam dan merasa pasangannya tidak mencintainya lagi. Hubungan suami isteri jadi hambar dan membosankan. Jika mereka tidak tahan terhadap krisis ini, rumah tangga akan berakhir sampai disitu. Terlebih kalau ada orang ketiga (the other woman/man) yang masuk dalam kemelut ini, dapat dipastikan suasana menjadi kian seru. Untuk menghindari hal itu, masing-masing pihak perlu menciptakan stimulan-stimulan baru, warna baru, tanpa harus keluar rel yang benar.

          Masa Rawan 3
          Terjadi pada tahun kelima belas sampai kedua puluh tahun perkawinan. Kerawanan dalam amasa ini hampir sama dengan masa rawan 2, yakni kejenuhan. Kedua pasangan merasa sudah saling mengenal luar dan dalam dengan baik sehingga tak ada misteri yang pelu diungkap. Dan karena itu pula sudah merasa tidak tertantang untuk bertualang mencari sesuatu yang terpendam dalam pribadi pasangannya. Semuanya seakan sudah terbuka dan terlihat, membosankan dan tidak menantang. Akibatnya, bisa seperti yang diatas apabila tidak dicermati secara dini.

          Akhirnya, bagaimanapun kita harus menyadari fitrah kita sebagai manusia yang tidak lepas dari salah dan kekurangan. Juga pada fitrah kita yang diberi kewajiban untuk melestarikan keturunannya, sebuah kewajiban yang tidak sekedar dijalankan dengan sekehendak hati, tetapi harus memakai cara-cara yang sudah ditentukan oleh agama. 

          Sudah jelaslah, kematangan diri dalam menjalani hubungan itu sangatlah penting sebagai pondasi. Pacaran hanyalah ajang coba-coba dan tidak ada keseriusan kebanyakan dilapangan sebagai status, seakan-akan permainan setan. Paling yang dicari dalam pacaran, hanya mengeksplor hal-hal yang berhubungan dengan kemesraan yang seringkali tidak disadari atau malah masa bodoh terhadap resiko yang ditimbulkannya. Sama saja memberi peluang terhadap setan untuk mempermudah tugasnya mengelincir orang yang mencintai dunia (tahta, harta, dan wanita) dibanding mencintai Penciptanya. Semakin lupa pada tujuan hidupnya dialihkan oleh angan-angan yang semu.

2.      Janji Tak bisa Dipegang
         Yup, janji tak bisa dipegang artinya tak dapat dipercaya sebab ada unsur-unsur  bersikap tidak jujur apa itu terhadap dirinya sendiri ataukah terhadap pacarnya. Kalau kita amati orang yang berpacaran seakan-akan bahagia terus sebab yang dilihat itu saat-saat senang dalam kebersamaan dilihat secara objektif. Tahukah kamu? Saat sedang mereka bersama tanpa sepengetahuan kita bakalan ditemui godaan yaitu perselisihan pendapat, godaan pertahanan kesetiaan, penyesuaian diri dalam menyatukan pikiran hati untuk berjalan bersama, datangnya pihak orang ketiga. Nah, jadi bukan hanya jalan bersama-sama jika berpergian kemana-mana lebih jauh kita harus tau mampukah berjalan bersama tersebut dijalankan saat ditimpa masalah dalam hubungannya? Malah itulah yang harus kita amati, sebab jika seseorang dalam keadaan terhimpit akan menampilkan sifat aslinya sayang atau pura-pura sayang, apa janjinya ditepati atau diingkari. Keadaan yang berubah jika jiwanya labil niscaya mengikuti perubahan tersebut tanpa alasan yang jelas. Secepat kilat, goyah terhembus angin, istilahnya tak punya pendirian tetap meragukan kemampuan diri sendiri dan meragukan rasa sayang kekasihnya.

          Hakikatnya, jiwa yang masih labil antara pikiran dan perasaan masih cenderung berubah-ubah belum menentu, sebab dominan meragukan belum ada pegangan untuk mempertanggungjawabkan. Jadi, bagaimana mungkin bisa dipegang setiap apa yang dijanjikan sedang dirinya sendiri belum bisa memastikan bisakah mewujudkannya, padahal setiap manusia hanya bisa merencanakan tak diberi kemampuan untuk menentukan terjadi sesuatu hal dalam hidupnya, segala sesuatu diatur oleh kehendak Ilahi Robbi. Tentu kita harus berwaspada, jangan tertipu daya oleh rayuan, manis kata, sebab hal itu bagian dari strategi setan untuk menjerumuskan ke kenikmatan sesaat. "Kasih tak akan tinggalkan, tapi nyatanya meninggalkan tanpa kabar.

3.      Pacaran itu bukan Ikatan tapi Status
          Banyak orang yang mungkir dari kenyataan ini, tapi dengan artikel satu ini semua itu tidak artinya sebab akan diulas sedetail mungkin agar kita kembali pada Islam yang sebenarnya.Pacaran itu bukan Ikatan tapi Status, ya status makanya dikenal dengan istilah “jadian”selain itu tidak ada 2 saksi tidak ijab qobul, sehingga yang tahu hanya mereka berdua bersifat sembunyi-sembunyi jauh dari ridho Allah dan jauh ridho Orangtua (sayangnya orangtua sekarang terlalu mengikuti zaman sehingga melegalkan anaknya pacaran jika ada resiko pada anaknya barulah kesadaran itu ada, nyaris bukan).

          Berbeda sekali dengan Menikah itu ikatan sah menurut 2 hukum antaranya: Hukum Negara dan Hukum Islam, sehingga pertanggungjawaban semakin jelas jika disalahsatunya melanggar kewajiban suami atau kewajiban istri pasti akan dikenai oleh hukuman yang tercantum Undang-Undang Perkawinan. Sekarang begini, jika ada seorang cewek yang hamil saat masih pacaran lalu meminta pertanggungjawaban apa itu wajar? Jawabnya: tidak wajar, sebab cewek tersebut melakukannya suka dengan suka tidak ada keterpaksaan, lalu harus bagaimana kalau sekiranya? Cowoknya mau bertanggungjawab sih tidak jadi masalah, tapi sesuai analisa pengamatan penulis banyaknya yang mungkir untuk bertanggungjawab atas perilakunya disarankan menikah dulu barulah berproduksi bayi sebanyak-banyaknya mau bikin klub tim sepakbola boleh (11 0rang), atau mau bikin kampung sendiri dengan sekitar 30 bayi (tapi sangatlah aneh khayalannya hik).

          Dari sejak dulu, Islam tidak pernah mengenal istilah Pacaran, malah Islam sendiri memandang Pacaran sebagai azas pemanfaatan atau azas kesenangan sekedar iseng (mengisi waktu kosong)  itulah dalihnya. Maka kesimpulannya, Pacaran diharamkan tanpa ada kompromi-kompromi yang biasanya menolak vonis pacaran haram. Jika melakukan pacaran masih dilakukan itu resikonya harus diambil penuh antaranya: dosa melanggar kewajiban menjaga diri, dosa melanggar tidak menahan hawa nafsu birahi, harus bertanggungjawab atas kebodohan yang dilakukan sendiri, harus ikhlas jika dikhianati dilecehkan martabatnya, harus ikhlas dikekang sehingga keterbatasan beraktifitas, harus ikhlas kehilangan arah tujuan, dan masih banyak lagi (yang mengalami adalah kamu sendiri sedang oranglain hanya mengingatkan selebihnya berpikirlah sebelum apa yang tidak dinginkan terjadi). 

4.      Membuang waktu sia-sia

              Banyak waktu yang tersisihkan untuk berdua-duaan padahal banyak tugas di sekolah atau dikantor menjadi korban, seringkali terjadi Sholat Fardhu pun ditinggalkan semata-mata untuk berkencan (alias tidak tau waktu) biasanya sebelum Magrib sudah kelayaban kemana-mana bukan gadis biasa saja gadis berjilbab pun sekarang sama tidak mengerti arti sebenarnya apa itu pacaran. Pacaran tidak semata-mata diharamkan begitu saja oleh Allah dalam Firmannya yang tertulis dalam AlQur’an tapi untuk dipikirkan dan dijalankan jika pacaran itu haram karena “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Isra (17) : 32) Zina yang ditafsirkan oleh kebanyakan orang itu memiliki arti yang terpenting tidak sampai melakukan hubungan seks (Zina Kemaluan), teryata jika dikaji lebih dalam oleh Tafsir Qur’an hasilnya berbeda menurut Islam, Zina itu bukan hanya Zina Kemaluan, akan tetapi banyak zina-zina lain yang ditebarkan contohnya: Zina Bibir (Mencium yang bukan muhrim yang belum sah), Zina Tangan(Meremas payudara, Memegang tangan padahal itu punya daya efek dalam menyakinkan keraguan, menenangkan, dan timbul hasrat seks), Zina Mata (Melihat payudara, melihat aurat-aurat lainnya, pemandangan yang bukan saatnya sebab hanya diperbolehkan pada suami istri tapi masih dengan ketentuan lain didalam hubungan seks secara Islam tidak bolehnya telanjang, itu artinya banyak hal yang belum diketahui), Zina Kaki (melangkah untuk berkencan padahal sudah jelas berdua-duaan sama halnya memberi peluang pada nafsu berkeliaran), Zina Hati (berangan yang tidak-tidak hal bersifat jorok atau kotor, merendahkan martabat seseorang dengan memebri janji-janji kosong, dan hal lainnya).

          Sebagaimana dalam Haditsnya yang berbunyi. “Dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad Saw bahwa beliau bersabda: “telah ditulis atas anak Adam nasibnya (bagiannya) dari zina, maka dia pasti menemuinya zina kedua matanya adalah memandang, zina kakinya adalah melangkah, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan, dibenarkan yang demikian oleh kemaluannya atau didustakan.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan An Nasa’i). Dalam riwayat lain beliau bersabda, “kedua tangan berzina dan zinanya adalah meraba, kedua kaki berzina dan zinanya adalah melangkah, dan mulut berzina dan zinanya adalah mencium.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

          Sudahlah jelas kini, bukan hanya Zina Kemaluan saja yang bisa terjadi melainkan menyebar ke berbagai cabang zina ya disinilah alasan pelarangan pacaran itu sendiri lebih banyak mudharat (Keburukan) dibanding manfaatnya. Bukannya hanya faktor yang mendekati zina saja sudah diharamkan apalagi perbuatannya. Jadi, sudah seharusnya pacaran ditinggalkan apalagi bisa mengganggu konsentrasi belajar, konsentrasi bekerja, asik berdua-duaan hingga cita-cita yang ingin diraih terlupakan karena sibuk memikirkan pacarnya takut selingkuhlah, takut diputusinlah, banyak hal yang ditakutkan. Ya memang akan menimbulkan kegelisahan dan kecurigaan yang tak jelas itu semua ulah setan yang membawa sifat waswas terhadap hati kita dibisikannya pikiran-pikiran yang negatif, “Takutkah kalau di suatu hari nanti pacarmu meninggalkanmu? Takutkah kalau pacarmu ditaksir oleh temanmu sendiri atau orang lain, sehingga rasa waswas itu akan membebani hingga akhirnya terperosok dalam dosa-dosa inilah yang diinginkan oleh setan.”

          Pacaran itu dilegalkan oleh Islam Liberal (sebagai gaya hidup modern) dan Iblis sebagai Pencetus Utama (agar Manusia memandang baik hal-hal yang bersifat buruk sebagai tipudaya). Coba perhatikan ayat AlQur’an ini, Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka." (QS. Al Hijr (15) : 39 – 40). Disini agar banyaknya yang terjerumus makanya Pacaran dilegalkan padahal itu semua tipudaya setan, tidak ada pacaran islami, pacaran sehat sekalipun belum bisa menjaga kehormatan diri malah kebanyakan sakit hati, berangan-angan jorok ditimbulkannya dari situ. Sekarang, hidup tanpa pacar masih digoda dengan pikiran jorok asal ya itu tadi dalam ayat diatas kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka yang bisa kita garisbawahi. Pacaran kenapa bisa legalkan? Karena citra menikah itu diperburuk oleh setan dan anggotanya agar berani berbuat maksiat sebagai jalan pintas, jika dibayangkan Menikah harus tanggungjawab kalau pacaran itu hanya sekedar status jika sewaktu-waktu bosan bisa meninggalkannya, jika ceweknya hamil bakal beralasan bukannya itu suka sama suka kenapa harus diadili jadi tanggungjawab cewek itu sendiri, sehingga setan mengajarkan untuk tidak bertanggungjawab atas apa yang diperbuat. Begitu caranya setan menipudaya jika tidak disadari semakin luputlah terhadap kebenaran sejati (kebenaran mutlak dari Allah Swt). Sebagai gambaran, Rasulullah ditanya tentang hal yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, beliau bersabda: “Mulut dan Kemaluan.” (HR. Tirmidzi, ia berkata hadits ini shahih gharib)

5.      Gelisah disebabkan tidak memiliki seutuhnya
          Akan timbul kegelisahan, kecurigaan yang berlebihan disebabkan karena tidak terikat oleh Hukum Negara maupun Hukum Agama, sehingga rasa tanggungjawab individu kurang diperhatikan terjadilah banyak pelewengan (untuk menghindar dari rasa tanggungjawab). Selain itu, karena tidak bisa memiliki seutuhnya dalam artian hanya jasadnya sedangkan jiwanya harus masih bebas, karena suami istri sudah memiliki hak dan kewajiban masing-masing yang harus dipenuhi. Sedang dalam pacaran seringkali yang dominan mempengaruhi itu hak saja yang diunggulkan sedang kewajiban sering diabaikan (perlakuan) hanya memperlihatkan sikap menguasai satu sama lain atau menguasai satu pihak. Siapa diantara cewek atau cowok yang menguasai itulah yang harus dituruti kemauan dan keinginannya nyaris inilah yang terjadi. Sudah berpikirkah saat ini, untuk berhenti pacaran? Sebagai tantangan, pada kesanggupan kita sendiri, penulis saja sudah sanggup sendiri hingga waktunya tiba untuk menikah setelahnya pacaran istilahnya pacaran setelah menikah untuk menjaga keharmonisan hubungan. Hakikat pacaran hanya senang-senang, tidak terbebani oleh tanggungjawab, sedang suami istri punya hak kewajiban seperti yang dikatakan tadi diatas memikul tanggungjawab atas perilaku, perlakuan, dan perbuatan sendiri ujung-ujungnya berdampak pada hubungan itu sendiri bertahankah atau putus disitu saja sebagai penentuan kondisi jiwa sikap labil (berubah-ubah) atau stabil (tetap)?

6.      Merusak Persahabatan
          Tak jarang dan tak bisa dipungkiri, persahabatan yang sudah lama dijalin sudah bertahun-tahun bisa retak disebabkan memperebutkan sang pujaan sebagai kekasih. Masing-masing merasa punya saingan menjadi tantangan, seringkali cara-cara licik dijalankan seperti: Menghasud (Memperburuk citra saingannya), dan sebagainya. Makanya ada istilah teman makan teman atau pagar makan tanaman menjadi simbol pengkhianatan atau musuh dalam selimut. Jika tidak ada pujaan yang diperebutkan tidak akan begitu jadinya, maka jelaslah pacaran itu bisa merusak persahabatan. Jika bersaing sehat itu ada pasti tidak mungkin akan bentrok sosial tapi ini terjadi tumbuhnya sifat-sifat menjatuhkan dan tidak mempedulikan nasib saingannya yang dipikirkannya itu bagaimana caranya menang dan saingannya itu kalah. Padahal kalah atau menang bukan akhir segalanya, bagaimana ternyata pujaan tersebut tidak akan memilih salah satu malah itu dijadikan sebagai permainan adu domba, apa hal itu tidak menyakitkan. Sebab tidak jarang hal itu jadi taruhan.

7.      Jauh dari Ilahi
          Kerapkali banyak kawula muda yang tidak memperhatikan waktu dan tempat mengekspresikan cintanya, contohnya: Keluar rumah sebelum sholat Magrib, kemudian saking asyiknya sampai sholat Isya pun dilewatkan, setelah itu pulang kemalaman saking lelahnya langsung tidur,  sudah ada 2 sholat fardhu yang dtinggalkan, kemudian Subuh menjelang saking lelah bangunnya pun kesiangan sholat Subuh pun ditinggalkan. Nah, sekarang kita akan amati lagi, jika hal ini sering dilakukan oleh pasangan kawula muda yang berstatus pacaran berapa banyak dosa meninggalkan sholat fardhu? Mungkinkah terhitung?
          Sudah terbukti, pacaran pun bisa menjauhkan dari Ilahi, sampai-sampai waktu untuk kewajiban diri masing-masing dilupakan, padahal sholat itu menjadi penentu amal dan karcis atau tiket masuk ke surga Ilahi (surga Akhirat). Sekalipun masih ada yang sholat berbarengan pada waktunya, tapi ini tidak bisa dijadikan alasan sebab kawula muda dominan yang paling banyak adalah meninggalkan sholat. Kalaulah yang penting tau waktu sholat, nanti juga bisa untuk sholat, bukan efektif malah sebaliknya melonggar ketetapan syariat yang ada. Sehingga pengaruh buruknya ke kawula muda yang lain akan menuruti yang pacaran sehat, padahal sehatnya juga belum tentu 100%, pasti ada bolong-bolongnya, suatu hari nanti bakal ditemui. Ya, saran penulis lebih pacaran setelah menikah untuk menjaga keharmonisan yang ada mah.

Kesimpulan:
Fakta Kepalsuan Pacaran menurut Muhammad Adam Hussein dalam artikel ini, antara lain: 1. Sifat Asli Takkan Ditemui, 2. Janji Tak bisa Dipegang, 3. Pacaran itu bukan Ikatan tapi Status, 4. Membuang waktu sia-sia, 5. Gelisah disebabkan tidak memiliki seutuhny, 6. Merusak Persahabatan, dan 7. Jauh dari Ilahi. Dari sinilah, kita telah mengetahui kebenarannya yang seringkali orang lain menutupinya, karena hal ini kebenaran maka harus diungkap bukannya disembunyikan. Jika berhenti pacaran atau tidaknya, itu kembali pada masing-masing individu yang bertanggungjawab, penulis hanyalah sekedar mengingatkan selebihnya gimana pembaca, sebab tiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda antara jalan yang menyimpang dari agama atau jalan yang sesuai dengan agama khususnya Islam.

Sumber Pustaka:
Assewed, Muhammad Uwar. Jangan Dekati Zina. Penerbit: IslamHouse.com (versi PDF) Hal. 6, 13.

Departemen Agama Republik Indonesia. Alquran dan Terjemahnya. Penerbit: PT. Kumudasmoro Grafindo, Semarang. Cetakan 1994.

Rohmadi Rusdi. Manipulasi Hidup: Tragedi Harta, Tahta, dan Wanita. Penerbit RosdaKarya, Bandung.  Cetakan 1995. Hal. 70-72.


6 Pertanyaan Penting

Ada 6 Pertanyaan Penting :

1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ?
2. Apa yang paling jauh dari kita di dunia ?
3. Apa yang paling besar di dunia ?
4. Apa yang paling berat di dunia ?
5. Apa yang paling ringan di dunia ?
6. Apa yang paling tajam di dunia ?

Nak tau jawapannya? baca seterusnya buat renungan kita bersama...Insyallah

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya,

Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman,dan kerabatnya.
Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati" . Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.(Ali Imran : 185)

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang ke dua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab Negara China , bulan,matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "Masa Lalu" . Bagaimanapun kita, apa pun kenderaan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ke tiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawah gunung,bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A'Raf: 179). Maka dengan itu kita harus hati-hati dengan nafsu kita, agar jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan ke empat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawapan semua benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling berat adalah "Memegang AMANAH" (Al Ahzab72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung,dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) didunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka kerana ia tidak biasa memegang amanahnya. Pertanyaan yang ke lima adalah,"Apa yang paling ringan didunia ini?". Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "Meninggalkan Solat" . Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara-gara meeting kita tinggalkan solat.

Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling tajam adalah "Lidah Manusia" . Kerana melalui lidah, manusia dengan senangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. Pernahkah kita terfikir mengapa Allah lahirkan kita sebagai umat Islam? Bersyukurlah dan bertaubatlah selalu.

Maksud Tujuh Lapis Bumi


Assl.wrwb
Ana baca kitab Fathul Baari jilid 17 bab tujuh lapis bumi menjelaskan tentang ayat :
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. " (QS. Ath-Thalaaq: 12)
Ibnu hajar mengatakan ada 7 bumi karena jaraknya sangat dekat sehingga dianggap satu, isinya juga sama ada kita, nabi Adamnya sama, nabi Isanya sama begitu juga nabi Muhammadnya. Sedangkan pendapat lainnya jaraknya berjajar seperti langit (500 tahun perjalanan antar bumi). Ana jadi ingat konsep dunia paralel yang ada teori menyatakan bahwa jaraknya sangat dekat dengan kita hanya beberapa meter saja dan sempat ada filmnya dulu judulnya SLIDER, yang intinya ada bumi lain yang isinya juga sama, ada saya ada ustadz, dll.
Kira-kira ada pendapat lain gak ? mungkin ustadz bisa menjelaskan dari kitab2 karangan para ulama lainnya.
Wss.wrwb
SHB

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb
Firman Allah swt :
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ

Artinya : “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.” (QS. Ath Thalaq : 12)
Ibnu Hajar mengatakan bahwa bisa jadi perkataan (bumi) saling berdekatan karena jika tidak maka akan tampak bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah. Hal itu juga ditunjukkan oleh apa yang diriwayatkan Ibnu Jarir dari jalan Syu’bah dari ‘Amr bin Murroh dari Abi adh Dhuha dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya ومن الأرض مثلهن (dan seperti itu pula bumi), dia berkata,”Pada setiap bumi adalah seperti Ibrahim, dan seperti ciptaan yang ada di atas bumi.” Demikianlah apa yang diriwayatkan Ibnu Jarir secara ringkas dengan sanad yang shahih.
Diriwayatkan oleh Al Hakim dan Baihaqi dari jalan ‘Atho bin as Saaib dari Abi adh Dhuha secara panjang lebar, yaitu tujuh lapis bumi,”Di setiap bumi terdapat Adam seperti Adam kalian, Nuh seperti Nuh kalian, Ibrahim seperti Ibrahim kalian, Isa seperti Isa kalian dan seorang Nabi seperti Nabi kalian.” Al Baihaqi mengatakan,”sanadnya shahih.” hanya saja syadz (ganjil) karena terdapat Murroh.
Ibnu Hajar juga menjelaskan bahwa lahiriyah firman-Nya ومن الأرض مثلهن merupakan jawaban atas para ahli yang mengatakan bahwa tidak ada jarak antara satu bumi dengan bumi yang lainnya meskipun sebagiannya berada diatas sebagian yang lainnya, bahkan bumi ketujuh sangat padat dan tidak memiliki rongga, lalu di tengahnya terdapat titik sentral, demikian pula dengan pendapat-pendapat mereka yang lain yang tidak memiliki argumentasi.
Diriwayatkan dari Ahmad dan Tirmidzi dari Hadits Abu Hurairoh,”Sesungguhnya antara satu langit dengan langit yang lainnya berjarak lima ratus tahun, dan sesungguhnya bangunan setiap langit sama seperti itu. Dan antara satu bumi dengan bumi yang lainnya berjarak lima ratus tahun.”
Diriwayatkan pula oleh Ishaq bin Rohuwaih dan al Bazzar dari hadits Abu Dzar serupa dengan itu,”Antara setiap langit dengan langit yang lainnya berjarak tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua tahun.
Kedua hadits tersebut dapat digabungkan yang berarti bahwa perbedaan jarak diantara keduanya adalah tergantung dari cepat atau lambat perjalanannya. (Fathul Bari juz VI hal 317)
Imam Suyuthi ketika ditanya tentang hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Abi adh Dhuha dari Ibnu Abbas tentang,”Di setiap bumi terdapat Adam seperti Adam kalian, Nuh seperti Nuh kalian, Ibrahim seperti Ibrahim kalian, Isa seperti Isa kalian dan seorang Nabi seperti Nabi kalian.” Maka beliau (Suyuthi) menjawab bahwa hadits itu diriwayatkan oleh Hakim didalam “al Mustadrak” dan dia (Hakim) mengatakan bahwa hadits itu memiliki sanad yang shahih. Hadits itu juga diriwayatkan oleh Baihaqi didalam “Syu’abul Iman” dan dia mengatakan bahwa sanadnya shahih akan tetapi syadz (ada keganjilan) dengan adanya orang yang bernama Murroh, dan perkataan ini berasal dari Baihaqi dengan tujuan yang baik bahwa dia tidak mengharuskan shahihnya sanad dengan shahihnya matan, sebagaimana ditegaskan didalam ilmu tentang hadits karena adanya kemungkinan sanadnya shahih akan tetapi matannya syadz atau ‘illah (terdapat keganjilan tau cacat) yang dapat menghalangi keshahihannya. Dan apabila telah tampak kelemahan haditsnya maka hal itu sudah cukup daripada penta’wilannya karena dalam pemasalahan seperti ini tidak bisa menerima hadits-hadits yang lemah.
Sehingga bisa dita’wilkan bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah para pemberi peringatan yang menyampaikan da’wah dikalangan jin tentang para nabi manusia, dan tidak mustahil apabila kemudian mereka dinamakan dengan nama-nama para nabi. (al Haawi Lil Fatawa juz II hal 70)
Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa jika hadits itu betul berasal dari Ibnu Abbas maka sesungguhnya beliau telah mengambilnya dari israiliyat. (al Bidayah wan Nihayah jilid I hal 30))
Syeikh ‘Athiyah Saqar mengatakan (dalam hal ini) kita lepaskan akal dalam menyingkapnya atau mencari hasilnya dan apabila ia telah sampai kepada kenyataan yang kuat dan sesuai dengan yang telah ditetapkan maka ia tidak akan bertentangan dengan firman Allah swt, dan firman Allah haruslah menjadi dasar sedangkan yang lainnya haruslah dinilai dengannya dan dihukum berdasarkannya. Apabila makna nashnya sudah jelas maka ia tidaklah mengandung berbagai makna dan penakwilan.
Untuk itu berhati-hati adalah suatu kewajiban ketika tidak bisa menempatkan ayat-ayat al Qur’an terhadap segala sesuatu yang ingin disingkap ketika didalamnya terdapat banyak teori dan hipotesa… (Fatawa al Azhar juz VII hal 456)
Wallahu A’lam
 

Menyentuh Al-Quran tanpa Wudhu

Assalamua'laikum Wr.Wb.
Ustad, saya mau tanya
1. Apa boleh kita baca atau menyentuh Al-Qur'an tanpa punya wudhu ?
2. Saya pernah denger kalau kita baca surat at-taubah, tidak perlu baca basmalah dulu, apa itu benar ustad dan apa alasannya ?
Terimakasih atas jawabannya.
Wassalamua'laikum Wr.Wb
Amir

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Amir yang dimuliakan Allah swt
Menyentuh Al Qur’an Tanpa Wudhu
Para imam telah bersepakat diharamkan membawa mushaf dan menyentuhnya bagi orang yang sedang haidh, nifas maupun junub, tak seorang pun sahabat yang menentangnya, namun hal tersebut dibolehkan oleh Daud dan Ibnu Hazm azh Zhahiriy.
Dalil yang digunakan oleh para imam adalah firman Allah :
إِنَّهُ لَقُرْآَنٌ كَرِيمٌ (77) فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (78) لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ (79) تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (80)
Artinya : “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh). tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Rabbil 'alamiin.” (QS. Al Waqi’ah : 77 – 80), bahwa yang dimaksud dengan al Kitab di situ adalah mushaf sedangkan makna menyentuh adalah menyentuh secara fisik yang telah diketahui.
Dalil ini mendapat tanggapan dari sebagian ulama yang menafsirkan “kitab yang terpelihara” adalah Lauh Mahfuzh sedangkan makna “orang-orang yang suci” adalah para malaikat. Atau seandainya yang dimaksud dengan al Kitab adalah mushaf maka orang-orang yang suci adalah orang-orang yang suci dari kesyirikan, karena orang-orang musyrik adalah najis, pendapat ini dibenarkan oleh Ibnul Qoyyim didalam “At Tibyan fii Aqsaamil Qur’an, hal 141” bahwa yang dimaksud dengan al Kitab adalah yang ada ditangan para malaikat.
Para imam juga berdalil dengan hadits Ibnu Umar,”Janganlah kamu menyentuh al Qu’an kecuali kamu dalam keadaan bersih” hadits disebutkan oleh Haitsami didalam “Majma’ az Zawaid” dia mengatakan bahwa orang-orang yang meriwayatkannya bisa dipercaya. Sedangkan al Hafizh mengatakan bahwa sanadnya tidak masalah namun didalamnya terdapat seorang perawi yang diperselisihkan.
Sedangkan dalil Daud dan Ibnu Hazm yang mengatakan tidak diperbolehkan membawa dan menyentuhnya adalah apa yang terdapat didalam ash Shahihain, bahwa Nabi saw mengutus sebuah tulisan kepada Hiraklius yang didalamnya terdapat ayat :
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ (64)

Artinya : “Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan…". (QS. Al Imran : 64) , serta tulisan-tulisan lainnya yang dikirim kepada mereka yang mana mereka tidaklah bersih dari junub.
Hal ini dijawab oleh para imam dengan mengatakan bahwa surat tidaklah bisa dikatakan dengan mushaf dan tidak ada larangan dalam hal ini, seperti halnya membawa buku-buku agama yang didalamnya terdapat ayat-ayat al Qur’an. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa membawa atau menyentuh mushaf bagi orang yang sedang haidh atau junub adalah diharamkan yang tidak terbantahkan. Hal itu merupakan bentuk penghormatan terhadap mushaf.
Adapun bagi orang yang berhadats kecil, maka hukumnya sebagai berikut :
1. Jumhur ulama mengharamkannya menyentuh dan membawa mushaf, ini adalah pendapat Malik, Syafi’i dan Abu Hanifah didalam salah satu riwayatnya, dalil-dalil mereka sama dengan yang diatas.
2. Sebagian ulama membolehkannya, ini adalah pendapat Abu Hanifah didalam salah satu riwayatnya sebagaiman juga dibolehkan oleh Daud bin Ali.
Sebagian orang-orang yang mengharamkannya mengecualikan hal itu terhadap anak-anak kecil yang belum baligh atau bermimpi karena kebutuhan mereka untuk menghafal Al Qur’an serta memudahkan penghafalannya bagi mereka, karena jika pun seorang anak itu bersuci (wudhu) maka bersucinya itu tidaklah sah dikarenakan tidak sah niatnya. Hal ini kemudian dianalogikan kepada orang-orang dewasa yang membutuhkan al Qur’an untuk menghafal Al Qur’an. Adapun apabila untuk tujuan ibadah maka diharuskan atasnya untuk bersuci.
Demikianlah, sedangkan membaca al Qur’an tanpa menyetuh atau membawa mushaf dibolehkan bagi orang yang sedang berhadats kecil, ini sudah menjadi kesepakatan para fuqoha, walaupun yang paling utama (afdhol) adalah dalam keadaan bersuci, khususnya apabila dimaksudkan untuk ibadah, karena ibadah dengan bersuci lebih sempurna dan lebih bisa diharapkan untuk diterima. (Fatawa al Azhar juz VII hal 496)
Surat At Taubah Tanpa Basmalah
Terdapat perbedaan tentang sebab peramasalahan ini :
Ada yang mengatakan bahwa hal itu dikarenakan surat at taubah diturunkan pada saat peperangan, pertempuran dan untuk membongkar keadaan orang-orang munafik sehingga tidaklah pas apabila ia diawali dengan basmalah yang didalamnya mengandung rahmat (kasih sayang), sebagaimana kebiasaan orang-orang Arab tatkala mereka menyerang orang lain dengan perkataan maka awal perkataannya adalah disesuaikan dengan isi perkataannya.
Serta yang diriwayatkan dari ibnu Abbas yang bertanya kepada Utsman,”Mengapa tidak ditulis kalimat basmalah antara surat at taubah dengan al anfal?” Utsman menjawab,”Karena surat at taubah adalah surat yang terakhir turun dan hingga Rasulullah saw wafat beliau tidak menjelaskan tentang permasalahan ini. Dan aku melihat awal surat ini memiliki kemiripan dengan akhir-akhir surat al anfal maka aku pun sertakan surat at taubah setelah surat al anfal.
Wallahu a’lam
 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
About The Author
Nama saya Dimas Yanuar Permadi pemilik Dimas Dhiyau'ur Rahman Blog saya melakukan kegiatan Blogging untuk menambah Ilmu dan memeberi Ilmu pada Anda...