Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 33:59).


Personal
Hobbies Blogs - Blog Rankings Web Directory
Top Blogs blog-indonesia.com

Perisai Diri it's My Style

(16 Januari 2011) Ini adalah moment dimana saat itu diadakan syuro' mengenai keorganisasian dan dilanjutkan dengan pengaplikasian/penerapan serta pembenaran sikap yang dibimbing langsung oleh Dewan Pendekar

Class Meet Kelas X(X-4)

Moment ini diambil saat class meet kelas X,ini sedang beristirahat melepas lelah setelah tanding futsal dengan kakak kelas S-2 yang kelasku habis dibantai dengan skor 6-1

We are the Champion

Team futsal kebanggan kelas Sinfony(Science Four Community) yang beranggotakan Denta,Dimas,Hendi,Herlambang,Rega,Nugroho,Rizal,Shella,Tabah dan Jeff yang Alhamdullilah atas Ridhlo Allah SWT bisa mempertahankan gelar juara 1 Classmeet Futsal 2x berturut-turut

Pentas Seni SMANESA Season II

Moment ini diambil saat aku masih kelas XI tepatnya XI-A4, Salah satu kenang-kenangan yang indah

Keluarga Besar Kampung Sinfony

Keluarga besar sinfony saat merayakan kemenangan classmeet futsal semester 2

www.voa-islam.com
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Gangguan dalam Keimanan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُوْنَ حَتىَّ يُقَالُ: هَذَا، خَلَقَ اللهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهُ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Tak henti-hentinya manusia bertanya-tanya, sampai-sampai dikatakan: Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Barang siapa yang merasakan keraguan dalam hatinya, maka hendaklah ia berkata: Aku beriman kepada Allah.”
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُوْلُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا وَكَذَا؟ حَتىَّ يَقُوْلُ لَهُ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَ ذَلِكَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ
Sesungguhnya Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Syaitan mendatangi salah seorang diantara kamu kemudian berkata: Siapa yang menciptakan begini dan begitu? Sehingga ia berkata : Siapa yang menciptakan Tuhanmu? Ketika sampai pada hal itu (pertanyaan siapa yang menciptakan Tuhanmu) , maka seharusnya ia berlindunglah kepada Allah dan menghentikannya.(tidak melanjutkan pertanyaan)”

Segala Sesuatu Terjadi Sesuai Dengan Waktu Yang Telah Ditentukan

عَنْ عَبْدِاللهِ. قِالِ:
قَالَتْ أُمُّ حَبِيْبَةَ، زَوْجُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم :اَللّهُمَّ! أَمْتِعْنِي بِزَوْجِي، رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم. وَبِأَبِي أَبِي سُفْيَانَ. وَبِأَخِيْ، مُعَاوِيَةَ. قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم :قَدْ سَأَلْتِ اللهَ ِلآجَالٍ مَضْرُوْبَةٍ، وَأَيَّامٍ مَعْدُوْدَاتٍ، وَأَرْزَاقٍ مَقْسُوْمَةٍ. لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حَلِّهِ. أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حَلِّهِ. وَلَوْ كُنْتِ سَأَلْتِ اللهَ أَنْ يُعِيْذُكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ، أَوْ عَذَابٍ فِي الْقَبْرِ، كَانَ خَيْرًا وَأَفْضَلَ
Hadis riwayat ‘Abdullah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
“Ummu Habibah isteri Nabi Shallallahu alaihi wassalam mengatakan : “Ya Allah ! Berilah aku kegembiraan dengan suamiku Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan dengan bapakku Abu Sufyan dan dengan saudaraku Mu’awiyah !” Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam berkata: “Sesungguhnya engkau meminta kepada Allah untuk waktu yang telah ditentukan, hari yang telah ditentukan dan rezeki yang telah ditentukan pembagiannya. Tuhan tidak akan mencepatkan terjadinya sesuatu sebelum tiba waktunya atau melambatkan sesuatu dari waktunya. Kalau seandainya engkau meminta kepada Allah, supaya engkau dilindungiNya dari siksaan dalam neraka atau adzab kubur, itu lebih baik dan lebih utama.

Jangan Suka Mengucapkan “Kalau….”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ. وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. اَحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ. وَلاَ تَعْجِزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ. وَمَا شَاءَ فَعَلَ. فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
“Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Seorang Mukmin yang kuat (badannya dan kemauannya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang mukmin yang lemah. Tetapi masing-masing ada kebaikannya. Kuatkanlah harapanmu untuk memperoleh apa yang berguna kepadamu dan minta tolonglah kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Kalau engkau ditimpa sesuatu (bahaya), janganlah engkau mengucapkan : “Kalau saya memperbuat…tentu akan terjadi begini dan begitu.” Melainkan ucapkanlah: “Itu qodar Allah dan apa yang Dia kehendaki maka diperbuatNya.”. Dan sesungguhnya perkataan “kalau…” membuka pekerjaan syaitan (penyesalan dan kekesalan).

Bacaan dalam Shalat Maghrib

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ؛ قَالَ
إِنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ سَمِعَتْهُ وَهُوَ يَقْرِأُ: {وَالْمُرْسَلاَتِ غُرْقًا} [77/المرسلات/ الآية-1] فَقاَلَتْ: يَا بُنَيَّ! لَقَدْ ذَكَرَتْنِي بِقِرَاءَتِكَ هٰذِهِ السُّوْرَةَ. إِنَّهَا َلآخِرَ مَا سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ بِهَا فِي الْمَغْرِبِ.
Hadits riwayat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Bahwa Ummul Fadhil binti Haris mendengar Ibnu Abbas membaca “Walmrsalati ‘urfan” (Surat Murlasat). Lalu Ummul Fadhil berkata: “Hai anakkku! Sesungguhnya engkau membaca surat ini (Al Mursalat) mengingatkan kepada saya, bahwa itulah yang terakhir sekali saya mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam membacanya dalam shalat maghrib.”
عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعَمٍ ؛ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ بِالطُّوْرِ، فِي الْمَغْرِبِ
Hadits Jubair bin Muth’am Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Saya mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam membaca surat At Thur dalam shalat maghrib.

Bacaan dalam shalat Isya’

عَنْ الْبَرَّاءِ يَحْدِثُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم؛ أَنَّهُ كَانَ فِي السَّفَرِ. فَصَلَّى الْعِشَاءَ اْلآخِرَةَ. فَقَرَأَ فِي إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ: {وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِ} [95/التين/ الآية-1
Hadits riwayat Barra’ Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam bahwa dalam suatu perjalanan beliau mengerjakan shalat Isyak. Dalam salah satu dari dua rakaatnya beliau membaca Wat tiini waz zaitun

عَنْ جَابِرٍ؛ قَالَ
كَانَ مُعاَذُ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم. ثُمَّ يَأْتِي فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ. فَصَلَّى لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم الْعِشَاءَ. ثُمَّ أَتَى قَوْمَهُ فَأَمَّهُمْ. فَافْتَتَحَ بِسُوْرَةِ الْبَقَرَةِ. فَانْحَرَفَ رَجُلٌ فَسَلَّمَ. ثُمَّ صَلَّى وَحْدَهُ وَانْصَرَفَ. فَقَالُوْا لَهُ: أَناَفَقْتَ؟ يَا فُلاَنُ! قَالَ: لاَ. وَاللهِ! وَلآتِيَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَلأَخْبِرَنَّهُ. فَأَتَى رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِنَّا أَصْحَابُ نَوَاضِحَ. نَعْمَلُ بِالنَّهَارِ. وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى مَعَكَ الْعِشاَءَ. ثُمَّ أَتَي فَافْتَتَحَ بِسُوْرَةِ الْبَقَرَةِ. فَأَقْبَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلىٰ مُعَاذٍ. فَقَالَ “يَا مُعَاذُ! أَفَتَّانٌ أَنْتَ؟ اِقْرَأْ بِكَذَا. وَاقْرَأْ بِكَذاَ
قَالَ سُفْيَانُ: فَقُلْتُ لِعَمْرٍو: إِنَّ أَباَ الزُّبَيْرِ حَدَثَناَ عَنْ جَابِرٍ أَنَّهُ قَالَ “اِقْرَأْ {وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَالضُّحَى. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى}”. فَقَالَ عَمْرٌو: نَحْوَ هٰذَا.
Hadits riwayat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Muadz pernah shalat bersama Nabi Shallallahu alaihi wassalam lalu pulang mengimami kaumnya. Pada suatu malam ia shalat Isyak bersama Nabi Shallallahu alaihi wassalam lalu pulang mengimami kaumnya. Ketika ia mulai dengan membaca surat Al-Baqarah, ada seorang lelaki yang memisahkan diri dari shalat berjamaah sampai salam, selanjutnya mengerjakan shalat sendiri dan pergi. Orang-orang menegurnya: Hai fulan, apakah engkau telah munafik? Ia menjawab: Tidak, demi Allah. Sungguh, aku akan menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan memberitahukan hal ini. Setelah bertemu dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah pemilik unta penyiram tanaman, bekerja di siang hari. Sesungguhnya Muaz setelah mengerjakan shalat Isyak bersama Anda lalu pulang dan (shalat bersama kami) mulai dengan bacaan surat Al-Baqarah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menghadap ke arah Muaz dan bersabda: Wahai Muadz, apakah engkau ingin menimbulkan fitnah (kesulitan)? Bacalah (surat) ini dan itu. Sufyan berkata: Aku berkata kepada Amru bahwa Abu Zubair menceritakan kepada kami dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Bacalah Was Syamsi wa Dhuhaaha (surat As-Syams), Wadh Dhuhaa (surat Ad-Dhuhaa), Wal laili idza Yaghsyaa (surat Al-Lail) dan Sabbihisma rabbikal a`laa (sutat Al-A`laa), maka Amru menanggapi: Ya, seperti itu.

Bacaan dalam shalat Dzuhur dan Ashar

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ؛ قَالَ:
كَانَ النَّبِيُّ صلى اله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ بِاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى [92/الليل/ 1]. وَفِي الْعَصْرِ، نَحْوَ ذٰلِكَ. وَفِي الصُّبْحِ، أَطْوَلَ مِنْ ذٰلِكَ.
Hadits riwayat Jabir bin Samurah Radhiyallahu’anhu, ia berkata,
Nabi Shallallahu alaihi wassalam pernah membaca “wallaili idzaa yaghsaa” (surat Al-lail) dalam shalat dzuhur dan dalam shalat ashar seumpama (spanjang) itu pula. Dan dalam shalat subuh, lebih panjang dari itu.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ؛
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ بِـ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلٰى} [87/الأعلى/ الآية-1]. وَفِي الصُّبْحِ، بِأَطْوَلَ مِنْ ذٰلِكَ.

Hadits riwayat Jabir bin Samurah Radhiyallahu’anhu, ia berkata,
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam pernah dalam shalat dzuhur membaca “sabbihisma rabbikal a’la” (surat Al A’la) dan pada shalat subuh lebih panjang dari itu.

Bacaan Shalat Subuh

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ السَّائِبِ. قَالَ: صَلَّى لَناَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الصُّبْحَ بِمَكَّةَ. فَاسْتَفْتَحَ سُوْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ. حَتَّى جَاءَ ذِكْرُ مُوْسٰى وَهَارُوْنَ. أَوْ ذِكْرُ عِيْسٰى (مُحَمَّدُ بْنُ عِبَادٍ يَشُكُّ أَوِ اخْتَلَفُوْا عَلَيْهِ) أَخَذَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سِلْعَةٌ. فَرَكَعَ
Hadits riwayat Abdullah bin Sa’ib Radhiyallahu’anhu, ia berkata :
Nabi Shallallahu alaihi wassalam shalat subuh di Mekah menjadi imam kami, lalu beliau membaca Al Mu’minun dari awalnya sampai (kepada ayat) menyebut Musa dan Harun atau ayat menyebut ‘Isa beliau diserang batuk, lalu beliau ruku’.
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ؛
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلاَةِ الْغَدَاةِ مِنَ السِّتِّيْنَ إِلىٰ الْمِائَةِ.
Hadits riwayat Abu Barzah Radhiyallahu’anhu: ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dalam shalat Subuh membaca enam puluh sampai seratus ayat
عَنْ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ؛ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ: {وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسْ} [81/التكوير/ الآية-17].
Hadits riwayat Amru bin Hurais Radhiyallahu’anhu,
Bahwasanya dia mendengar Nabi Shallallahu alaihi wassalam membaca “wal laili idza ‘as ‘asa (surat takwir) dalam shalat fajar (subuh).
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ؛ قَالَ:
إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ بـِ {ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيْدِ}. وَكَانَ صَلاَتُهُ بَعْدُ، تَخْفِيْفاً.
Hadits riwayat Jabir bin Samurah Radhiyallahu’anhu, ia berkata,
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam membaca “Qof wal qur anil majid” (surat Qof) dalam shalat subuh dan shalat Nabi sesudah itu dipendekkan.

Umat Muhammad merupakan setengah penghuni surga

عَنْ عَبْدِاللهِ؛ قَالَ: قَالَ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:
أَمَا تَرْضَوْنَ أَنْ تَكُوْنُوْا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قَالَ فَكَبَّرْنَا. ثُمَّ قَالَ :أَمَا تَرْضَوْنَ أَنْ تَكُوْنُوْا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قَالَ فَكَبَّرْنَا. ثُمَّ قَالَ : إِنِّي َلأَرْجُوْ أَنْ تَكُوْنُوْا شَطْرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ. وَسَأَخْبَرُكُمْ عَنْ ذَلِكَ. مَا الْمُسْلِمُوْنَ فِي الْكُفَّارِ إِلاَّ كَشَعْرَةِ بَيْضَاءٍ فِي ثَوْرٍ أَسْوَدَ. أَوْ كَشَعْرَةِ سَوْدَاءٍ فِي ثَوْرِ أَبْيَضَ
Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda kepada kami: Ridakah kalian menjadi seperempat penghuni surga? Kami (para sahabat) bertakbir. Beliau bersabda lagi: Ridakah kalian menjadi sepertiga penghuni surga? Kami pun bertakbir. Lalu beliau kembali bersabda: Sungguh, aku berharap kalian dapat menjadi setengah penghuni surga. Aku akan memberitahukan hal itu kepada kalian. Orang-orang Islam di tengah orang-orang kafir seperti sehelai rambut putih pada sapi hitam, atau seperti sehelai rambut hitam pada sapi putih.”

Tujuh yang Membinasakan

عن أبى هريرة قال سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه والسلام اِجْتَنِبُوا السَّبْعِ الْمُوْبِقَاتِ اَلشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَاَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَاَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ
44. Dari Abu Hurairah RA berkata:
“Rasulullah SAW bersabda : “Jauhilah tujuh yang membinasakan : Mempersekutukan Allah, sihir, membunuh orang yang dilarang membunuhnya, kecuali menurut haknya (qisos), memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri dalam peperangan dan mencemarkan nama baik wanita-wanita yang sopan yang tidak tertarik kepada perbuatan jahat dan mereka orang-orang yang beriman.”

Kebanyakan Kaum Wanita adalah Penghuni Neraka

عن عبدالله بن عمر قال قال رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه والسلام يَامَعْشَرَالنِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَاَكْثِرْنَ الإِسْتِغْفَارَ فَإِنِّى رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ حَوْلَةٌ وَمَالَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَمَارَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَغْلَبَ لِذِى لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَانُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّيْنِ قَالَ أَمَّا نُقْصَانُ الْعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تُعْدِلُ شَهَادَةُ رَجُلٍ فَهَذَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَتَمْكُثُ اللَّيَالِى مَا تُصَلِّى وَتُفْطِرُ فِى رَمَضَانَ فَهَذَا نُقْصَانُ الدِّيْنِ
36. Dari Abdullah bin Umar RA katanya:
“Rasulullah SAW bersabda : “Hai para wanita!” Bersedekahlah kamu dan banyaklah memohon ampun (kepada Allah), Karena aku melihat kalian lebih banyak menjadi penghuni neraka. Seorang wanita yang cerdik di antara mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kaum wanita yang lebih banyak menjadi penghuni neraka?” Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Menjawab :”Kamu banyak mencela dan tidak berterima kasih kepada suami. Dan aku tidak melihat kurangnya akal dan agama yang lebih menguasai manusia dari kalian. Wanita itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah kekurangan akal dan agama itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Yang dimaksud dengan kurang pada akal adalah karena dua orang saksi wanita sama dengan seorang saksi laki-laki. Ini adalah kekurangan akal. Wanita menghabisi waktu malamnya tanpa mengerjakan salat dan tidak puasa di bulan Ramadan (karena haid), ini adalah kekurangan pada agama.”

Mimpi yang baik adalah sebagian daripada wahyu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ،
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم.قَالَ: “إِذَا اِقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ تَكْذِبُ. وَأَصْدَقُكُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُكُمْ حَدِيْثًا. وَرُؤْيَا الْمُسْلِمِ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ وَالرُّؤْيَا ثَلاَثَةٌ: فَرُؤْيَا الصَّالِحَةِ بُشْرَى مِنَ اللهِ. وَرُؤْيَا تَحْزِيْنٍ مِنَ الشَّيْطَانِ. وَرُؤْيَا مِمَّا يُحَدِّثُ الْمَرْءُ نَفْسَِهُِ. فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ، فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ. وَلاَ يَحْدِثُ بِهَا النَّاسَ”. قَالَ “وَأَحَبُّ الْقَيْدَ أَكْرَهُ الْغَلَّ. وَالْقَيْدُ ثُبَاتٌ فِي الدِّيْنِ” فَلاَ أَدْرِي هُوَ فِي الْحَدِيْثِ أَمْ قَالَهُ اِبْنُ سِيْرِيْنَ.
(2263)
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Dari Nabi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bahwa beliau bersabda: Ketika kiamat telah mendekat, mimpi seorang muslim hampir tidak ada dustanya. Mimpi salah seorang di antara kalian yang paling mendekati kebenaran adalah mimpi orang yang paling jujur dalam berbicara. Mimpi orang muslim adalah termasuk satu dari empat puluh lima bagian kenabian. Mimpi itu dibagi menjadi tiga kelompok: Mimpi yang baik, yaitu kabar gembira yang datang dari Allah. Mimpi yang menyedihkan, yaitu mimpi yang datang dari setan. Dan mimpi yang datang dari bisikan diri sendiri. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaknya dia bangun dari tidur lalu mengerjakan salat dan hendaknya jangan dia ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain.
Beliau berkata: Aku gembira bila mimpi terikat dengan tali dan tidak suka bila mimpi dengan leher terbelenggu. Tali adalah lambang keteguhan dalam beragama. Kata Abu Hurairah: Aku tidak tahu apakah ia termasuk hadits atau ucapan Ibnu Sirin. (Shahih Muslim 2263)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ عُبَادَةِ بْنِ الصَّامِتِ. قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ”.(2264)
Hadits riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Mimpi seorang mukmin adalah termasuk satu dari empat puluh enam bagian kenabian. (Shahih Muslim 2264)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “اَلرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ”. (2265)
Hadits riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Mimpi yang benar adalah sebagian dari pada tujuh puluh bagian kenabian. (Shahih Muslim 2265)

Hadits tentang syair

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ:
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ “إِنَّ أَصْدَقَ كَلِمَةٍ قَالَهَا شَاعِرٌ كَلِمَةُ لُبَيْدٍ: أَلاَ كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلاَ اللهُ بَاطِلٌ”
3- (2256)
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Bait syair (puisi) paling bagus yang pernah diucapkan oleh penyair adalah bait syair Lubaid: Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil. (Shahih Muslm:2256-3)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ.قَالَ:
  قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ” لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ الرَّجُلِ قَيْحًا يريهِ، خَيْرًا مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا”.(2257)
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Perut seseorang itu lebih baik penuh dengan cairan nanah yang dapat merusak tubuh daripada penuh dengan syair.(Shahih Muslm:2257)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم. قَالَ “أَشْعَرُ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَتْ بِهَا الْعَرَبُ كَلِمَةُ لُبَيْدٍ: أَلاَ كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلاَ اللهُ بَاطِلٌ” 2- (2256)
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam bahwa beliau bersabda: Bait syair (puisi) paling bagus yang pernah diucapkan oleh orang-orang Arab adalah bait syair Labid: Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.
(Shahih Muslm:2256-2)

Sesama Muslim itu saudara

عن أبى هريرة قال قال رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه والسلام اَلْمُسْلِمُ أَخُوالْمُسْلِمِ لاَيَظْلِمَهُ وَلاَيَخْذُلُهُ وَلاَيَحْقِرَهُ اَلتَّقْوَى هَهُنَاوَيُشِيْرُإِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَأَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
120. Dari Abu Hurairah Ra berkata:
“Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah saudara sesama muslim, tidak boleh menganiaya sesamanya, tidak boleh membiarkannya teraniaya dan tidak boleh merendahkannya. Taqwa (kepatuhan kepada Allah) itu letaknya disini….” Dan beliau mengisyaratkan ke dadanya. Perkataan ini diulanginya sampai tiga kali. ”Cukup besar kesalahan seseorang, apabila dia menghinakan (merendahkan) saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap sesame muslim, terlarang menumpahkan darahnya (membunuh atau melukai), merampas hartanya dan merusak kehormatannya (nama baiknya).”

FITNAH DUNIA

Hadits Fitnah Dunia
 Dari Amru bin Auf al-Anshari ra bahwa Rasulullah SAW mengutus Abu Ubaidah bin
al-Jarrah ke al-Bahrain untuk mengambil jizyahnya. Kemudian Abu Ubaidah datang dari bahrain
dengan membawa harta dan orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah.
Mereka berkumpul untuk shalat Subuh dengan Nabi SAW tatkala selesai dan hendak pergi
mereka mendatangi Rasul SAW, dan beliau tersenyum ketika melihat mereka kemudian
bersabda:”Saya yakin kalian mendengar bahwa Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan
membawa sesuatu ?”. Mereka menjawab:”Betul wahai Rasulullah”. Rasul SAW bersabda:”
Berikanlah kabar gembira dan harapan apa yang menyenangkan kalian, demi Allah bukanlahkefakiran yang paling aku takutkan padamu tetapi aku takut dibukanya dunia untukmusebagaimana telah dibuka bagi orang-orang sebelummu dan kalian akan berlomba-lombamendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akan menghancurkanmusebagaimana telah menghancurkan mereka” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda:”Celakalah hamba dinar (emas), dirham (perak),pakaian dan pakaian sutra. Jika diberi ia suka dan jika tidak ia tidak suka”(HR Bukhari) Dalam riwayat Bukhari yang lain :” Jika diberi ia suka dan jika tidak ia murka, celakalah dan semoga celaka dan jika terkena duri tidak ada yang mengeluarkannya. Berbahagialah bagi seorang hamba Allah yang mengambil kendali kudanya di jalan Allah kepalanya acak-acakan dan
kakinya berdebu, jika ia disuruh berjaga maka berjaga dan jika disuruh didepan maka ia
didepan. Jika ia minta izin tidak diizinkan dan jika minta pesan tidak dikabulkan”
Dari Abu Said Al-Khudri ra dari Nabi saw bersabda:”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat,
dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu
menggunakannya. Maka thati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena
fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita” (HR Muslim)
Harta dengan segala macamnya pada dasarnya adalah keni’matan yang diberikan Allah SWT kepada hambanya. Dan manusia harus menjadikannya sebagai sarana ibadah dalam hidupnya. Tetapi yang sering terjadi dan menimpa manusia ialah bahwa harta berubah menjadi fitnah dan bencana yang merugikan dirinya di dunia maupun akhirat. Sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an yang artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar”
(At-Taghaabun 14-15).
Allah SWTberfirman yang artinya:”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu”(At-Takaatsur 1-8)
Manusia yang mestinya menjadikan harta sebagai sarana tetapi mereka menjadikan nya tujuan hidup bahkan banyak yang menghambakan hidupnya pada harta. Sehingga celakalah mereka. Oleh karenanya agar manusia tidak terfitnah dengan harta dan tidak jatuh pada fitnahnya hendaknya mereka mengetahui beberapa hal berikut:
1. Hakekat Harta dan Dunia

• Dunia adalah permainan dan senda gurau. Allah swt berfirman yang artinya: ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”
(QS Al-Ankabuut 64).
• Kesenangan yang menipu. Allah swt berfirman yang artinya: Artinya:”Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”
(QS Ali Imran 185).
• Kesenangan yang terbatas dan sementara, Firman-Nya; Janganlah sekali-kali kamu
terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah
kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”(QS Ali Imran 196-197)
• Jalan atau jembatan menuju akhirat, Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir (HR Bukhari dari Ibnu Umar) Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah menambahkan:” Posisikan dirimu bahwa engkau termasuk ahli kubur”.
2. Mengetahui Kedudukan Manusia
Manusia diciptakan Allah sebagai pemimpin yang harus memakmurkan bumi. Maka mereka
harus menguasai dunia atau harta bukan dikuasai oleh harta. Sebagaimana do’a yang
diungkapkan oleh Abu Bakar ra:”Ya Allah jadikanlah dunia ditanganku bukan masuk kedalam hatiku”. Kedudukan manusia lebih mulia dari dunia dan seisinya maka jangan sampai diperbudak oleh dunia atau harta benda. Manusia memang harus memakmurkan dunia tetapi jangan sampai hal itu melalaikan dirinya dari visi dan misi mereka.

3. Mengetahui bahwa segala yang dimiliki manusia berupa harta kekayaan akan dihisab.
Manusia harus mengetahui dan sadar bahwa kekayaan yang mereka miliki akan diperhitungkan di akhirat kelak. Bahkan semua yang dimiliki dan di’nimati manusia baik kecil maupun besar akan dicatat dan dipertanggungjawabkannya. Oleh karenanya mereka harus berhati-hati dalam mencari harta kekayaan dan dalam membelanjakannya. Jangan sampai mencarinya dengan cara yang diharamkan Allah dan membelanjakannya pada sesuatu yang dihramkan Allah. Lebih jauh lagi manusia harus menjauhkan diri dari diperbudak oleh harta.

4. Sadar bahwa keni’matan diakhirat jauh lebih ni’mat dan abadi. Seluruh bentuk keni’matan
Allah yang diberikan hamba-Nya didunia hanyalah sebagian kecil saja. Rasulullah saw
bersabda yang artinya: Artinya: Dari Abu Hurairah ra berkata: Saya mendengar Rasulullah saw
bersabda: ”Allah menjadikan rahmat 100 bagian, 99 bagian Allah tahan dan Allah turunkan ke bumi satu bagian. Satu bagian itulah yang menyebabkan sesama mahluk saling menyayangi sampai kuda mengangkat telapak kakinya dari anaknya khawatir mengenainya” (Muttafaqun‘alaihi).
Begitulah, keni’matan paling ni’mat yang Allah berikan di dunia hanyalah satu bagian saja dari rahmat Allah swt sedangkan sisanya Allah tahan dan hanya akan diberikan kepada orang-orang beriman di surga. Oleh karena itu dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda tentang dunia bagi orang beriman yang artinya: Dari Abu Hurairah ra berkata:”Rasulullah saw bersabda:” Dunia adalah penjara bagi mu’min dan surga bagi orang kafir”(HR Muslim).
Bahkan Rasulullah saw suatu saat dalam perjalanan bersama sahabat dan melewati pasar, disana ada seekor kambing yang mati dan cacat. Maka Rasulullah saw memegang telinganya dan berkata:” Siapakah yang mau membeli kambing ini satu dirham?” Sahabat berkata:” Kami tidak suka sedikitpun, dan untuk apa kambing itu?”. Rasul saw melanjutkan:” Maukah ini untukmu?”, sahabat menjawab:”Demi Allah jika masih hidup kambing ini cacat, apalagi kambing sudah jadi bangkai!”. Maka Rasulullah bersabda:”Demi Allah dunia untukmu lebih hina dari kambing ini di hadapan Allah” Allah swt berfirman yang artinya: “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir”(QS At-Taubah 55)
Begitulah karakteristik dunia yang dicari-cari manusia, apakah mereka tetap tidak sadar!

Hadits Pilihan Nawawi 1-10


01. Amalan itu Tergantung Niatnya

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]


Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]

Mutiara Hadits:
  1. Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’i berkata: Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu bagian dari ketiga unsur tersebut. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata," Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata," Hadits ini merupakan sepertiga Islam.
  2. Sebab dituturkannya (asbabul wurud) hadits ini: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama: “Ummu Qais” bukan untuk meraih pahala berhijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).
  3. Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan menghasilkankan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
  4. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
  5. Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.
  6. Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.
  7. Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhaan Allah maka dia akan bernilai ibadah.
  8. Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.
  9. Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

Penjelasan:
Hadits ini adalah hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan di dalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad.


Hadits ini merupakan salah satu pokok penting ajaran islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’I berkata: “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama’ mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.


Para ulama gemar memulai karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari. Abdurrahman bin Mahdi berkata: “bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”.


Hadits ini dibanding hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari sumber sanadnya (perawi / yang meriwayatkan hadits), hadits ini adalah hadits ahad (hanya memiliki serorang perawi),  karena hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dari Umar hanya diriwayatkan oleh ‘Alqamah bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari 200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dan kebanyakan mereka adalah para Imam.

Pertama: Kata “Innamaa” bermakna “hanya/pengecualian”, yaitu menetapkan sesuatu yang disebut dan mengingkari selain yang disebut itu. Kata “hanya” tersebut terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian secara mutlak dan terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian yang terbatas. Untuk membedakan antara dua pengertian ini dapat diketahui dari susunan kalimatnya. Misalnya, kalimat pada firman Allah: “Innamaa anta mundzirun” (Engkau (Muhammad) hanyalah seorang penyampai ancaman). (QS. Ar-Ra’d: 7)

Kalimat ini secara sepintas menyatakan bahwa tugas Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam hanyalah menyampaikan ancaman dari Allah, tidak mempunyai tugas-tugas lain. Padahal sebenarnya beliau mempunyai banyak sekali tugas, seperti menyampaikan kabar gembira dan lain sebagainya. Begitu juga kalimat pada firman Allah: “Innamal hayatud dunyaa la’ibun walahwun”  “Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan dan permainan”. (QS. Muhammad: 36)

Kalimat ini (wallahu a’lam) menunjukkan pembatasan berkenaan dengan akibat atau dampaknya, apabila dikaitkan dengan hakikat kehidupan dunia, maka kehidupan dapat menjadi wahana berbuat kebaikan. Dengan demikian apabila disebutkan kata “hanya” dalam suatu kalimat, hendaklah diperhatikan betul pengertian yang dimaksudkan.

Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang sabda Rasulullah, “semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat.


Kedua: Kalimat “Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya” oleh Khathabi dijelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan pengertian yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu menegaskan sah tidaknya amal bergantung pada niatnya. Juga Syaikh Muhyidin An-Nawawi menerangkan bahwa niat menjadi syarat sahnya amal. Sehingga seseorang yang meng-qadha shalat tanpa niat maka tidak sah shalatnya, walahu a’lam.


Ketiga: Kalimat “Dan siapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya” menurut penetapan ahli bahasa Arab, bahwa kalimat syarat dan jawabnya, begitu pula mubtada’ (subjek) dan khabar (predikatnya) haruslah berbeda, sedangkan di kalimat ini sama. Karena itu kalimat syarat bermakna niat atau maksud baik secara bahasa atau syari’at, maksudnya siapa berhijrah dengan niat karena Allah dan Rasul-Nya maka akan mendapat pahala dari hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.


Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais.

Wallahu a’lam

02. Iman, Islam, dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ: صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ. قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ.
[ رواه مسلم ]

Dari Umar bin Al-Khathab radhiallahu 'anh, dia berkata: ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata, "Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam"  Rasulullah menjawab, "Islam adalah: engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya." Orang itu berkata, "Engkau benar," kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu berkata lagi," Beritahukan kepadaku tentang Iman" Rasulullah menjawab,"Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk" Orang tadi berkata," Engkau benar" Orang itu berkata lagi," Beritahukan kepadaku tentang Ihsan" Rasulullah menjawab,"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu." Orang itu berkata lagi, "Beritahukan kepadaku tentang kiamat" Rasulullah menjawab," Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu daripada yang bertanya. "selanjutnya orang itu berkata lagi, "beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya" Rasulullah menjawab, " Jika budak perempuan telah melahirkan tuannya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan." Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah bertanya kepadaku, "Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?" Saya menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui" Rasulullah berkata, " Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian"
[HR Muslim]

Mutiara Hadits:
  1. Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena di dalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.
  2. Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’  (kepercayaan makhluk di langit/Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam )
  3. Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.
  4. Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.
  5. Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata, “Saya tidak tahu“, dan hal tersebut tidak akan mengurangi reputasinya.
  6. Adakalanya malaikat tampil dalam wujud manusia.
  7. Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan budaknya.
  8. Tidak dianjurkan mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya selama tidak dibutuhkan.
  9. Di dalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.
  10. Di dalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.

Penjelasan:
Hadits ini sangat berharga karena mencakup semua fungsi perbuatan lahiriah dan bathiniah, serta menjadi tempat merujuk bagi semua ilmu syari’at dan menjadi sumbernya. Oleh sebab itu hadits ini menjadi induk ilmu sunnah.


Hadits ini menunjukkan adanya contoh berpakaian yang bagus, berperilaku yang baik dan bersih ketika datang kepada ulama, orang terhormat atau penguasa, karena jibril datang untuk mengajarkan agama kepada manusia dalam keadaan seperti itu.
Kalimat “Ia meletakkan kedua telapak tangannya diatas kedua paha beliau, lalu ia berkata: Wahai Muhammad…” adalah riwayat yang masyhur. Nasa’i meriwayatkan dengan kalimat, “Dan ia meletakkan kedua tangannya pada kedua lutut Rasulullah…” Dengan demikian yang dimaksud kedua pahanya adalah kedua lututnya.


Dari hadits ini dipahami bahwa Islam dan iman adalah dua hal yang berbeda, baik secara bahasa maupun syari’at. Namun terkadang, dalam pengertian syari’at, kata Islam dipakai dengan makna iman dan sebaliknya.

Kalimat, “Kami heran, dia bertanya tetapi dia sendiri yang membenarkannya” mereka para sahabat Rasulullah menjadi heran atas kejadian tersebut, karena orang yang datang kepada Rasulullah hanya dikenal oleh beliau dan orang itu belum pernah mereka ketahui bertemu dengan Rasulullah dan mendengarkan sabda beliau. Kemudian ia mengajukan pertanyaan yang ia sendiri sudah tahu jawabannya bahkan membenarkannya, sehingga orang-orang heran dengan kejadian itu.


Kalimat, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, dan kepada kitab-kitab-Nya…” Iman kepada Allah yaitu mengakui bahwa Allah itu ada dan mempunyai sifat-sifat Agung serta sempurna, bersih dari sifat kekurangan,. Dia tunggal, benar, memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya, tidak ada yang setara dengan Dia, pencipta segala makhluk, bertindak sesuai kehendak-Nya dan melakukan segala kekuasaan-Nya sesuai keinginan-Nya.
Iman kepada Malaikat, maksudnya mengakui bahwa para malaikat adalah hamba Allah yang mulia, tidak mendahului sebelum ada perintah, dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya.Iman kepada Para Rasul Allah, maksudnya mengakui bahwa mereka jujur dalam menyampaikan segala keterangan yang diterima dari Allah dan mereka diberi mukjizat yang mengukuhkan kebenarannya, menyampaikan semua ajaran yang diterimanya, menjelaskan kepada orang-orang mukalaf apa-apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Para Rasul Allah wajib dimuliakan dan tidak boleh dibeda-bedakan.

Iman kepada hari Akhir, maksudnya mengakui adanya kiamat, termasuk hidup setelah mati, berkumpul di padang Mahsyar, adanya perhitungan dan timbangan amal, menempuh jembatan antara surga dan neraka, serta adanya Surga dan Neraka, dan juga mengakui hal-hal lain yang tersebut dalam Qur’an dan Hadits Rasulullah.

Iman kepada taqdir yaitu mengakui semua yang tersebut diatas, ringkasnya tersebut dalam firman Allah QS. Ash-Shaffaat: 96, “Allah menciptakan kamu dan semua perbuatan kamu” dan dalam QS. Al-Qamar: 49, “Sungguh segala sesuatu telah kami ciptakan dengan ukuran tertentu” dan di ayat-ayat yang lain. Demikian juga dalam hadits Rasulullah, dari Ibnu Abbas, “Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan suatu keuntungan kepadamu, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang Allah telah tetapkan pada dirimu. Dan sekiranya mereka berkumpul untuk melakukan suatu yang membahayakanmu, niscaya mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”

Para Ulama mengatakan, siapa yang membenarkan segala urusan dengan sungguh-sungguh lagi penuh keyakinan tidak sedikitpun terbersit keraguan, maka dia adalah mukmin sejati.Kalimat, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya…” Pada pokoknya merujuk pada kekhusyu’an dalam beribadah, memperhatikan hak Allah dan menyadari adanya pengawasan Allah kepadanya serta keagungan dan kebesaran Allah selama menjalankan ibadah.

Kalimat, “Beritahukan kepadaku tanda-tandanya? Rasulullah menjawab: Jika budak perempuan melahirkan tuannya” maksudnya di antara tanda-tanda kiamat adalah ketika perempuan melahirkan anak durhaka yang memperlakukan ibu kandungnya itu seperti budaknya. Menurut sebagian ulama yang lain: kaum muslimin kelak akan menguasai negeri kafir, sehingga banyak tawanan, maka budak-budak banyak melahirkan anak tuannya dan anak ini akan menempati posisi majikan karena kedudukan bapaknya. Hal ini menjadi sebagian tanda-tanda kiamat. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa itu menunjukkan kerusakan umat manusia sehingga orang-orang terhormat menjual budak yang menjadi ibu dari anak-anaknya, sehingga berpindah-pindah tangan yang mungkin sekali akan jatuh ke tangan anak kandungnya tanpa disadarinya.

Hadits ini juga menyatakan adanya larangan berlomba-lomba membangun bangunan yang sama sekali tidak dibutuhkan. Sebagaimana sabda Rasulullah, ”Anak adam diberi pahala untuk setiap belanja yang dikeluarkannya kecuali belanja untuk mendirikan bangunan (yang tidak bermanfaat)”
Kalimat, “Penggembala domba” secara khusus disebutkan karena merekalah yang merupakan golongan badui yang paling lemah sehingga umumnya tidak mampu mendirikan bangunan, berbeda dengan para pemilik onta yang umumnya orang terhormat.Kalimat, “Saya tetap tinggal beberapa lama” maksudnya Umar radhiallahu 'anh tetap menetap di tempat itu beberapa lama setelah orang yang bertanya pergi, dalam riwayat yang lain yang dimaksud tetap tinggal adalah Rasulullah.


Kalimat, “ia datang untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian” maksudnya mengajarkan pokok-pokok agama, demikian kata Syaikh Muhyidin An Nawawi dalam syarah shahih muslim. Isi hadits ini yang terpenting adalah penjelasan Islam, iman dan ihsan, serta kewajiban beriman kepada taqdir Allah Ta'ala.

Sesungguhnya keimanan seseorang dapat bertambah dan berkurang, QS. Al-Fath: 4, “Untuk menambah keimanan mereka pada keimanan yang sudah ada sebelumnya”. Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya bahwa Ibnu Abu Mulaikah berkata, “Aku temukan ada 30 orang shahabat Rasulullah yang khawatir ada sifat kemunafikan dalam dirinya. Tidak ada seorangpun dari mereka yang berani mengatakan bahwa ia memiliki keimanan seperti halnya keimanan Jibril dan Mikail ‘alaihimus salam”

Kata iman mencakup pengertian kata Islam dan semua bentuk ketaatan yang tersebut dalam hadits ini, karena semua hal tersebut merupakan perwujudan dari keyakinan yang ada dalam bathin yang menjadi tempat keimanan. Oleh karena itu kata Mukmin secara mutlak tidak dapat diterapkan pada orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar atau meninggalkan kewajiban agama, sebab suatu istilah harus menunjukkan pengertian yang lengkap dan tidak boleh dikurangi, kecuali dengan maksud tertentu. Juga dibolehkan menggunakan kata tidak beriman sebagaimana pengertian hadits Rasulullah, “Seseorang tidak berzina ketika dia beriman dan tidak mencuri ketika dia beriman” maksudnya seseorang dikatakan tidak beriman ketika berzina atau ketika dia mencuri.
Kata Islam mencakup makna iman dan makna ketaatan, Syaikh Abu ‘Umar berkata, “Kata iman dan Islam terkadang pengertiannya sama terkadang berbeda. Setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.”
Wallahu a’lam

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
About The Author
Nama saya Dimas Yanuar Permadi pemilik Dimas Dhiyau'ur Rahman Blog saya melakukan kegiatan Blogging untuk menambah Ilmu dan memeberi Ilmu pada Anda...