Perisai Diri it's My Style
(16 Januari 2011) Ini adalah moment dimana saat itu diadakan syuro' mengenai keorganisasian dan dilanjutkan dengan pengaplikasian/penerapan serta pembenaran sikap yang dibimbing langsung oleh Dewan Pendekar
Class Meet Kelas X(X-4)
Moment ini diambil saat class meet kelas X,ini sedang beristirahat melepas lelah setelah tanding futsal dengan kakak kelas S-2 yang kelasku habis dibantai dengan skor 6-1
We are the Champion
Team futsal kebanggan kelas Sinfony(Science Four Community) yang beranggotakan Denta,Dimas,Hendi,Herlambang,Rega,Nugroho,Rizal,Shella,Tabah dan Jeff yang Alhamdullilah atas Ridhlo Allah SWT bisa mempertahankan gelar juara 1 Classmeet Futsal 2x berturut-turut
Pentas Seni SMANESA Season II
Moment ini diambil saat aku masih kelas XI tepatnya XI-A4, Salah satu kenang-kenangan yang indah
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
AHLAN WA SAHLAN YA RAMADHAN
21.19
Dimas
AHLAN WA SAHLAN YA RAMADHAN
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Kaum muslimin dan muslimat yang dicintai dan dirahmati Allah !
Waktu begitu cepat berlalu, bulan demi bulan terus berjalan, dan - insya Allah – sebentar lagi kita menyambut datangnya bulan Ramadhan 1431 H. Bulan diwajibkan berpuasa bagi orang-orang beriman sebagai tarbiyah untuk mengantarkan mereka ke derajat muttaqiin.. Puasa bermakna imsak atau menahan diri dari makan, minum dan segala sesuatu yang membatalkannya dari waktu fajar sampai tenggelam matahari. Esensi puasa bermakna pengendalian diri dari hal-hal yang merusak dan dari memperturutkan selera hawa nafsu. Dan di antara hikmah dari ibadah Ramadhan adalah adanya kebersamaan saat ifthor dan saat memulai puasa, kebersamaan dalam ibadah shalat Fardhu dan shalat Tarawih serta kebersamaan dalam aktifitas ibadah lainnya. Kebersamaan ini juga diharapkan terjadi pada penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri. Kesiapan bersatu dalam hal yang prinsip adalah bentuk kematangan dalam beragama, sebagaimana kesiapan berbeda dalam cabang agama adalah bentuk toleransi dan kedewasaan dalam beragama. Bulan Ramadhan datang pada saat umat muslim membutuhkan kekuatan iman dan ruhiyah untuk menghadapi kondisi sulit dan berat dalam kehidupan mereka. Dan dengan datangnya bulan Ramadhan, Allah SWT. memberikan tambahan energi kekuatan iman dan ruhiyah, sehingga posisi mereka meningkat naik jauh melebihi permasalahan yang dihadapinya. Maka dalam suasana keimanan dan ruhiyah yang kuat, umat muslim dapat sukses mengatasi segala
permasalahan hidupnya. Bulan Ramadhan tahun ini, kondisi umat muslim di dunia Islam masih memprihatinkan, terutama di Palestina yang masih terjajah, masjidil Aqso di bawah cengkraman penjajah Zionisme Yahudi. Upaya relawan Internasional untuk menembus blokade Israel terhadap Gaza masih menemui hambatan yang besar. Dengan dibombardirnya relawan Internasional diatas kapal Mavi Marmara, Zionisme Israel telah membuktikan dirinya bukan hanya menjadi musuh
umat Islam, tetapi musuh umat manusia se dunia. Kondisi negeri muslim yang lain seperti di Irak, Afghanistan, Mesir, Pakistan, Tunisia dll. Mesih
sangat memprihatinkan. Mereka belum mendapatkan hak kemerdekaannya secara sempurna. Sementara itu umat muslim yang tinggal di negara-negara minoritas muslim, seperti, Cina, India, Thailand, Burma, Philipina, negara-negara Eropa dan Amerika, masih jauh dari nilai-nilai ideal.
Sedangkan di dalam negeri Indonesia masih sibuk mengurusi problem internal dalam negeri, seperti mahalnya kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan.
Dalam suasana seperti ini, bulan Ramadhan datang. Bulan Ramadhan bukan untuk membuat umat muslim lemah, lesu dan tidak berdaya, karena melaksanakan ibadah shaum, tilawah Al-Qur’an dan Tarawih. Tetapi Ramadhan harus membuat umat muslim lebih kuat, bersatu, bersemangat, berani dan berjihad membebaskan dominasi musuh-musuhnya, baik musuh berupa syahwat dan syetan maupun musuh dari orang-orang kafir yang mengadakan kerusakan di muka bumi. Demikianlah yang terjadi dalam perjalanan sejarah umat muslim di bulan Ramadhan. Memasuki momentum Ramadhan yang sangat baik ini, umat muslim harus mempersiapkan diri dengan baik sehingga Visi Ramadhan dapat tercapai, yaitu terealisirnya ketaqwaan. Ketaqwaan yang sebenarnya diseluruh lapangan kehidupan. Ketaqwaan di rumah, di masjid, di kantor, di
sekolah dan kampus, di pasar, dan ketaqwaan dimana saja kita berada. Ketaqwaan inilah yang melahirkan keberkahan dari langit dan bumi, pembuka pintu rahmat Allah SWT dan jalan keluar
dan solusi atas segala krisis multidimensional. “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al-A’raaf 96). Pada saat yang sama, krisis inilah yang menimpa umat manusia, krisis keimanan dan ketaqwaan. Maka terjadilah krisis susulan, seperti ; pembunuhan atas manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas, aborsi dan pornografi, penggunaan NARKOBA dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, KKN, penganiayaan dan kezhaliman serta pelanggaran lainnya. Demikian juga musibah demi musibah tidak kunjung berhenti. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut harus dimulai
dari akar krisis dan akar permasalahannya. Solusi atas krisis secara horizontal harus dimulai dengan mendidik manusia menjadi insan bertqwa sehingga mampu menahan diri dari pelanggaran-pelanggaran dan tunduk pada Allah dan hukum Islam. Dan solusi krisis secara vertikal dengan menegakkan Syari’ah Islam dalam masyarakat dan pemerintah sehingga mereka takut akan sanksi dan tidak melanggar larangan-Nya. Syari’ah Islam memberi rahmat bagi manusia, menjamin hak beragama, hak
hidup, hak pemilikan harta, hak berfikir dan berpendapat, hak terpeliharanya kehormatan dan keturunan. Kesinilah langkah harus ditujukan, pikiran dicurahkan, gerakan reformasi diarahkan, segala tenaga dikerahkan.
Marilah kita mempersiapkan dan memasuki bulan Ramadhan dengan bekal yang maksimal, bekal ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah. Persiapan ruhiyah dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, do’a dll. Persiapan fikriyah dengan mendalami ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Dan persiapan jasadiyah dengan menjaga kesehatan, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Menyiapkan harta yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang terbaik (sayyidusyuhur), dan mengandung seluruh
sebutan, nama dan makna yang baik, oleh karenanya umat muslim harus meningkatkan semua potensi kebaikannya di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan puasa (Syahrus Siyam), bulan ibadah (Syahrul Ibadah), bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an), bulan ampunan dan kembali (Syahrul Maghfirah wal Inabah) bulan kepedulian dan solidaritas (Syahrul Muwaasaah), bulan pembinaan (Syahrut Tarbiyah), bulan jihad (Syahrul Jihad), bulan kesabaran (Syahru Shabr) bulan ketaqwaan (Syahrut Taqwa) dll.
Bulan Ramadhan sebagai bulan puasa (Syahrus Siyam), berarti umat muslim harus berpuasa dengan baik dan meningkatkan ibadah puasanya. Melaksanakan ibadah puasa (shaum) dengan hati yang ikhlas dan penuh pemahaman serta memperhatikan segala adab dan sunnah-sunnahnya. Para ulama berpendapat bahwa berpuasa memiliki tingkatan-tingkatan, maka puasa kita harus terus meningkat dari tahun-ketahun. Puasa bukan hanya menahan makan, minum dan yang membatalkan dari terbit fajar sampai tenggelam matahari, tetapi puasa dari segala yang diharamkan Allah, dan puasa yang dapat mengantarkan pada ketaqwaan. Bulan Ramadhan merupakan bulan ibadah (Syahrul Ibadah), bulan yang sangat kondusif untuk meningkatkan ibadah, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan syetan dibelenggu. Semua ibadah di bulan ini pahalanya dilipatgandakan. Siangnya diisi dengan siyam, malamnya diisi
dengan qiyam (sholat tarawih) .Dan diantara waktu siang dan malam diisi dengan tilawah, dzikir, do’a dan ibadah lainnya. Puncak ibadah Ramadhan ketika memasuki 10 hari terakhir, orang beriman sangat dianjurkan untuk beri’tikaf di masjid. Bahkan Allah berikan salah satu malam, yaitu Lailatul Qodar (malam kemuliaan) lebih baik dari 1000 bulan. Rasulullah saw bersabda:
"Sungguh, telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu setan-setan. Di dalam Ramadhan terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tak berhasil memperoleh kebaikan Ramadhan sungguh ia tidak akan mendapatkan itu buat selama-lamanya." (Riwayat Ahmad, Nasaa'i dan Baihaqy). Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an (Syahrul Qur’an), umat muslim harus lebih bersungguh-sungguh lagi dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Berinteraksi secara utuh, baik secara tilawah, hafalan, pemahaman, pengamalan dan mengajarkan. Menumbuhkan semangat mencintai Al-Qur’an dan ahlul Qur’an, mensosialisasikan Al-Qur’an di tengah keluarga muslim dan masyarakat muslim serta menciptakan genarasi Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan dan surat yang pertama turun adalah surat al-Alaq yang berisi perintah membaca. Maka jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan pengawal
kebangkitan Islam Allah SWT. berfirman:
“Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan
memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS Al-Israa’ 9)
Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan dan kembali (Syahrul Maghfirah wal Inabah), dimana pintu ampunan terbuka lebar dan bulan kembali pada Allah dan ajaran Islam. Suatu kesempatan tahunan yang teramat mahal jika disia-siakan untuk meraih ampunan Allah dan kesempatan untuk kembali kepada Allah. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda,” Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh
keimanan dan perhitungan, diampuni dosanya yang telah lalu. Siapa yang shalat malam di Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan perhitungan, diampuni dosanya yang telah lalu”(Muttafaqun ‘alaihi) .
“Jika awal malam Ramadhan datang, syetan dan jin jahat di belenggu, pintu neraka di tutup, tidak ada satu pintupun yang dibuka, pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang ditutup, dan setiap malam penyeru berkata, “ Wahai pencari kebaikan datanglah, wahai pencari keburukan, berhentilah dan Allah memerdekakan dari api neraka, dan itu setiap malam” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim dll).
Bulan Ramadhan adalah bulan kepedulian dan solidaritas (Syahrul Muawaasaah), umat muslim harus meningkatkan kepedulian dan solidaritas di bulan Ramadhan terhadap saudaranya yang kurang beruntung dari segi ekonomi dan sosial, yang terkena musibah dan yang sedang berjihad. Lebih khusus lagi, kepedulian dan solidaritas terhadap para mujahidin, para korban perang, anak-anak yatim, ibu-ibu janda, orang tua dan semua yang terzhalimi di Palestina. Di bulan ini Rasulullah saw mencontohkan dan menganjurkan orang-orang beriman untuk memperbanyak infak, lebih khusus lagi memberi makan orang-orang yang berpuasa. "Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw, adalah orang yang paling pemurah, dan lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan ketika bertemu Jibril, beliau bertemu setiap malam bulan Ramadhan membimbing bacaan Al-Qur’an Rasul saw. Dan Rasulullah adalah orang yang sangat pemurah dalam kebaikan lebih dari angin yang berhembus” (HR Bukhari)
“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka seperti pahala orang yang berpuasa, dengan tanpa dikurangi pahala dari orang yang berpuasa tersebut sedikitpun” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)
Dan bulan Ramdhan ditutup dengan kewajiban membayar shodaqoh atau zakat Fitrah. Semua itu merupakan bentuk kepedualian sosial dalam Islam kepada kaum fakir dan miskin, apalagi
kebutuhan untuk belanja pada bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri biasanya meningkat, maka solidaritas ini sangat dituntut dari para aghniya untuk berbagi dan membahagiakan kaum fakir dan miskin. Bulan Ramadhan merupakan bulan tarbiyah (Syahrut Tarbiyah), kesempatan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seluruh orang-orang beriman, para da’i dan ulama untuk melakukan tarbiyah, dakwah dan gerakan reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan
aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dll, sampai terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan itu terus bertahan sampai bertemu Ramadhan kembali, bahkan meningkat secara kualitas dan kuantitas. Di antara keistimewaan bulan Ramadhan yaitu, bulan Jihad (Syahrul Jihad), Jihad merupakan
puncak ajaran Islam, rahasia kemulian dan kejayaan umat Islam. Sedangkan landasan jihad adalah keimanan yang kuat, kesucian dan kebersihan jiwa. Oleh karenannya semangat jihad tumbuh subur di bulan Ramadhan, dan ini adalah momentum yang sangat tepat untuk menumbuhkan ruhul jihad dalam tubuh umat Islam untuk membangkitkan kembali kemuliaan Islam dan umatnya. Sejarah telah membuktikan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan gerakan jihad. Parang Badar Al-Kubra, Fathu Makkah, Pembebasan Palestina oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, Perang Ain Jalut yang dapat menaklukkan tentara Mongol, Penaklukkan Andalusia oleh pahlawan Tariq bin Ziyaad, Kemerdekaan Indonesia dll, semuanya terjadi pada bulan Ramadhan.
Esensi dan pesan Jihad dalam Islam adalah kehidupan, kemakmuran, pencerahan, penyatuan, pendidikan, pembangunan dan perubahan yang bermuara pada peningkatan kualitas kehidupan dan peradaban Islam yang menebarkan rahmat bagi alam semesta.
Dan ciri khas dari bulan Ramadhan lainnya adalah bulan kesabaran (Syahrus Shabr),
kesabaran dalam melaksanakan seluruh bentuk ketaatan dan kebaikan, kesabaran dalam meninggalkan kemaksiatan dan kesabaran dalam menjalani ujian. Kesabaran dalam berjamaah dan beramal jamai, kesabaran dalam berkeluarga, mendidik anak dan bermasyarakat, kesabaran dalam menghadapi fitnah, kesabaran dalam berukhuwah, kesabaran dalam memberi dan menerima nasehat Pembelajaran kesabaran itu berawal dari puasa, kemudian terus meningkat sampai pada kesabaran dalam jihad, maka sampailah pada predikat muttaqin
sebagai buah dari seluruh rangkaian ibadah Ramdahan, dan inilah hakekat dari kesuksesanyang sejati. Allah berfirman:
”Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (QS Ali Imran 200).
Semoga Allah SWT menerima shiyam dan ibadah kita dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat amal, dakwah dan jihad kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia dan seluruh dunia Islam yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera dengan mendapat ridha Allah.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Kesempurnaan Agama Islam
08.41
Dimas
Islam sebagai satu-satunya agama yang dipilih oleh Allah Ta'ala, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam" (Ali Imran: 19), merupakan kebenaran mutlak yang datang dari Allah Ta'ala dan tidak ada kebenaran selain Islam, maka siapa yang menginginkan selain Islam berarti dia memilih kebathilan dan dalam keadaan merugi.
Allah Ta'ala berfirman: "Apakah selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik dengan tunduk (taat) maupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan." (Ali Imran: 83). "Dan siapa yang menginginkan selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan diterima darinya agama tersebut dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (Ali Imran: 85).
Agama yang haq ini telah disempurnakan oleh Allah Ta'ala dalam segala segi, segala yang dibutuhkan hamba untuk kehidupan dunia dan akhiratnya telah dijelaskan, sehingga tidak luput satu percakapan melainkan Islam telah mengaturnya.
Allah Ta'ala berfirman: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian." (Al Maidah: 3)
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya berkata: "Ini merupakan nikmat Allah yang terbesar bagi ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada selain agama Islam dan tidak butuh kepada Nabi selain Nabi mereka shalawatullahi wassalaamu alaihi. Karena itulah Allah menjadikan Nabi ummat ini (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, pent.) sebagai penutup para Nabi dan Allah mengutusnya untuk kalangan manusia dan jin, maka tidak ada perkara yang haram kecuali apa yang dia haramkan, dan tidak ada agama kecuali apa yang dia syariatkan. Segala sesuatu yang dia kabarkan adalah kebenaran dan kejujuran tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada hal yang bertentangan." (Tafsir Al Qur`anul Azhim 3/14. Dar Al Ma'rifat).
Pernah datang seorang Yahudi kepada Umar Ibnul Khattab rodhiyallahu 'anhu lalu ia berkata: Wahai Amirul Mukminin! Seandainya ayat ini: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian." turun atas kami, niscaya kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya. Maka Umar menjawab: "Sesungguhnya aku tahu pada hari apa turun ayat tersebut, ayat ini turun pada hari Arafah bertepatan dengan hari Jum'at." (Riwayat Bukhari dalam Shahih-nya nomor 45,4407,4606).
Ayat yang menunjukkan kesempurnaan Islam ini memang patut dibanggakan dan hari turunnya patut dirayakan sebagai hari besar. Namun kita tidak perlu membuat-buat hari raya baru karena Allah menurunkannya tepat pada hari besar yang dirayakan oleh seluruh kaum Muslimin, yaitu hari Arafah dan hari Jum'at.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai utusan Allah Ta'ala kepada ummat ini telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah dari Allah dengan sempurna. Maka tidaklah beliau shallallahu 'alaihi wa sallam wafat melainkan beliau telah menjelaskan kepada ummatnya seluruh apa yang mereka butuhkan.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Hudzaifah rodhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Sungguh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami dengan suatu khutbah yang beliau tidak meninggalkan sedikitpun perkara yang akan berlangsung sampai hari kiamat kecuali beliau sebutkan ilmunya ..." (Shahih Bukhari nomor 6604).
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (juz 4 halaman 2217) dari Abu Zaid Amr bin Akhthab rodhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Shubuh bersama kami. (Selesai shalat) beliau naik ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Dhuhur, beliau turun dari mimbar dan shalat Dhuhur. Kemudian beliau naik lagi ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Ashar, kemudian beliau turun dari mimbar dan shalat Ashar. (Setelah shalat Ashar) beliau naik ke mimbar lalu mengkhutbahi kami hingga tenggelam matahari. Dalam khutbah tersebut beliau mengabarkan pada kami apa yang telah berlangsung dan apa yang akan berlangsung ..."
Allah Ta'ala berfirman: "Apakah selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik dengan tunduk (taat) maupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan." (Ali Imran: 83). "Dan siapa yang menginginkan selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan diterima darinya agama tersebut dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (Ali Imran: 85).
Agama yang haq ini telah disempurnakan oleh Allah Ta'ala dalam segala segi, segala yang dibutuhkan hamba untuk kehidupan dunia dan akhiratnya telah dijelaskan, sehingga tidak luput satu percakapan melainkan Islam telah mengaturnya.
Allah Ta'ala berfirman: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian." (Al Maidah: 3)
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya berkata: "Ini merupakan nikmat Allah yang terbesar bagi ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada selain agama Islam dan tidak butuh kepada Nabi selain Nabi mereka shalawatullahi wassalaamu alaihi. Karena itulah Allah menjadikan Nabi ummat ini (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, pent.) sebagai penutup para Nabi dan Allah mengutusnya untuk kalangan manusia dan jin, maka tidak ada perkara yang haram kecuali apa yang dia haramkan, dan tidak ada agama kecuali apa yang dia syariatkan. Segala sesuatu yang dia kabarkan adalah kebenaran dan kejujuran tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada hal yang bertentangan." (Tafsir Al Qur`anul Azhim 3/14. Dar Al Ma'rifat).
Pernah datang seorang Yahudi kepada Umar Ibnul Khattab rodhiyallahu 'anhu lalu ia berkata: Wahai Amirul Mukminin! Seandainya ayat ini: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian." turun atas kami, niscaya kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya. Maka Umar menjawab: "Sesungguhnya aku tahu pada hari apa turun ayat tersebut, ayat ini turun pada hari Arafah bertepatan dengan hari Jum'at." (Riwayat Bukhari dalam Shahih-nya nomor 45,4407,4606).
Ayat yang menunjukkan kesempurnaan Islam ini memang patut dibanggakan dan hari turunnya patut dirayakan sebagai hari besar. Namun kita tidak perlu membuat-buat hari raya baru karena Allah menurunkannya tepat pada hari besar yang dirayakan oleh seluruh kaum Muslimin, yaitu hari Arafah dan hari Jum'at.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai utusan Allah Ta'ala kepada ummat ini telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah dari Allah dengan sempurna. Maka tidaklah beliau shallallahu 'alaihi wa sallam wafat melainkan beliau telah menjelaskan kepada ummatnya seluruh apa yang mereka butuhkan.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Hudzaifah rodhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Sungguh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami dengan suatu khutbah yang beliau tidak meninggalkan sedikitpun perkara yang akan berlangsung sampai hari kiamat kecuali beliau sebutkan ilmunya ..." (Shahih Bukhari nomor 6604).
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (juz 4 halaman 2217) dari Abu Zaid Amr bin Akhthab rodhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Shubuh bersama kami. (Selesai shalat) beliau naik ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Dhuhur, beliau turun dari mimbar dan shalat Dhuhur. Kemudian beliau naik lagi ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Ashar, kemudian beliau turun dari mimbar dan shalat Ashar. (Setelah shalat Ashar) beliau naik ke mimbar lalu mengkhutbahi kami hingga tenggelam matahari. Dalam khutbah tersebut beliau mengabarkan pada kami apa yang telah berlangsung dan apa yang akan berlangsung ..."
Masuk Surga Bukan Karena Amalan Kita,Lantas Apa?
08.29
Dimas
Kita masuk surga bukan karena amalan-amalan kita.. Bukan karena tiap hari kita sholat lima waktu plus sholat-sholat sunah yang lain Bukan karena kita taat puasa ramadhan dan rajin puasa sunnah Bukan karena teratur mengeluarkan zakat bahkan sedekah.. Terlalu kecil amalan-amalan di atas untuk sekedar mendapatkan tiket masuk surga Lantas apa? Rahmat Allah pada kita,Kasih SayangNya pada kita.. Masalahnya bagaimana mengundang Rahmat Allah tsb? Yaitu dengan melakukan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya Jika kita telah berusaha melakukan segala amalan yang dicintai Allah Tinggallah menunggu keputusanNya,akan diletakkan dimana kita.. Rasulullah SAW pernah berkata, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh sayapun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” . Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. Memahami Allah dengan menggunakan kemampuan akal manusia adalah sia-sia, karena hakikat sifat-sifat Allah tidak dicerna oleh akal manusia, tapi oleh hati manusia. Hati manusia akan membantu kita memahami Allah, karena didalam hati bersemayam fitrah manusia yang salah satunya memiliki sifat-sifat cinta kepada Allah. Hatipun perlu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran (sifat sombong, dengki, kikir, dsbnya) agar fitrah manusia bisa diaktifkan untuk memahami sifat-sifat Allah dengan baik. Melalui pengenalan yang baik terhadap Allah melalui cara-cara yang diatur dalam Qur’an dan hadits, akan kita temukan bahwa Allah mensyaratkan aqidah Islam yang benar sebelum segala amal ibadahnya diterima. Aqidah adalah hal yang pokok yang membedakan Islam dengan agama lainnya.
Aqidah adalah fondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah) adalah dinding bangunan seorang Muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa fondasi maka ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang Muslim, tanpa aqidah yang benar dan lurus iapun tidak pantas disebut seorang Muslim. Tanpa ibadah yang sesuai syariah Islam, iapun belum sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah bangunan yang bernama Muslim. Demikian pula, tanpa Atap yang bernama akhlak, bangunan yang bernama Muslim ini belum utuh dan akan mudah rusak oleh hujan dan panas. Muslim yang baik wajib memiliki ketiga syarat ini (aqidah, ibadah dan akhlak) secara lengkap, tidak kurang satupun, dan harus sempurna. Bila aqidahnya salah, maka kekal lah ia di neraka, bila ibadah dan akhlak buruk maka ia ‘mungkin’ masih berpeluang masuk surga setelah di’cuci’ dulu di neraka. Semoga kita tidak termasuk sebagai orang yang di’cuci’ dulu, apalagi kekal, di neraka. Mumpung kita masih hidup di dunia ini, semoga kita diberi ilmu oleh Allah SWT mengenai kedahsyatan akhirat dan neraka, supaya kita tidak menggampangkan diri untuk menganggap bahwa di’cuci’ di neraka adalah bukan masalah besar. Memang sanggup panasnya? Siapa mau kipasin?! Naudzu billah min dzalik.
Aqidah adalah fondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah) adalah dinding bangunan seorang Muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa fondasi maka ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang Muslim, tanpa aqidah yang benar dan lurus iapun tidak pantas disebut seorang Muslim. Tanpa ibadah yang sesuai syariah Islam, iapun belum sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah bangunan yang bernama Muslim. Demikian pula, tanpa Atap yang bernama akhlak, bangunan yang bernama Muslim ini belum utuh dan akan mudah rusak oleh hujan dan panas.
Ketumaan Cinta Akhirat dan Zuhud Kehidupan Dunia
06.24
Dimas
Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu beliau berkata, “Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).” (HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan Syaikh al-Albani).
Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan cinta kepada akhirat dan zuhud dalam kehidupan dunia, serta celaan dan ancaman besar bagi orang yang terlalu berambisi mengejar harta benda duniawi (Lihat kitab at-Targib wat Tarhiib, 4/55 karya Imam al-Mundziri).
Sholat Sunnah Taubat
04.51
Dimas
Pengertian:
Shalat yang dikerjakan oleh seseorang disebabkan menyesali perbuatan maksiat (dosa) dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi
Waktu mengerjakannya:
Kapan saja merasa berdosa,baik terhadap manusia terlebih terhadap Allah maka cepat-cepatlah bertaubat,jangan sampai terlambat mengerjakan sholat taubat.
Caranya:
sebagaimana mengerjakan sholat sunnah biasa,boleh 2/4 rakaat bedanya hanya pada lafash niatnya.
Niat:
Usholli Sunnatat taubati rokataini lillahi ta’ala.
Saya niat sholat sunnah taubat 2 rakaat karena Allah ta’ala.
sesudah sholat Taubat:
Sehabis sholat perbanyak membaca istighfar,mohon ampun kepada Alla,kembali pada jalan Allah,berdzikir,dan berjanji tidak akan mengulangi lagi dosa yang diperbuat.
Doa:
Saya Mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.Dzat yang tidak ada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri,saya bertaubat kepadaNya.Wahai Allah ampunilah segala dosaku yang telah lalu,yang akan datang,yang tersembunyi dan yang tampak,Engkau lebih mengetahui daripada aku. Engkaulah dzat Yang Maha Awal dan Maha Akhir,Tidak ada Tuhan kecuali Engkau ya Allah..sesungguhnya aku telah menganiaya diri sendiri dengan dosa yang banyak dan tidak ada yang sanggup mengampuni kecuali Engkau Ya Allah. Maka ampuni aku dan kasihi aku karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Shalat yang dikerjakan oleh seseorang disebabkan menyesali perbuatan maksiat (dosa) dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi
Waktu mengerjakannya:
Kapan saja merasa berdosa,baik terhadap manusia terlebih terhadap Allah maka cepat-cepatlah bertaubat,jangan sampai terlambat mengerjakan sholat taubat.
Caranya:
sebagaimana mengerjakan sholat sunnah biasa,boleh 2/4 rakaat bedanya hanya pada lafash niatnya.
Niat:
Usholli Sunnatat taubati rokataini lillahi ta’ala.
Saya niat sholat sunnah taubat 2 rakaat karena Allah ta’ala.
sesudah sholat Taubat:
Sehabis sholat perbanyak membaca istighfar,mohon ampun kepada Alla,kembali pada jalan Allah,berdzikir,dan berjanji tidak akan mengulangi lagi dosa yang diperbuat.
Doa:
Saya Mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.Dzat yang tidak ada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri,saya bertaubat kepadaNya.Wahai Allah ampunilah segala dosaku yang telah lalu,yang akan datang,yang tersembunyi dan yang tampak,Engkau lebih mengetahui daripada aku. Engkaulah dzat Yang Maha Awal dan Maha Akhir,Tidak ada Tuhan kecuali Engkau ya Allah..sesungguhnya aku telah menganiaya diri sendiri dengan dosa yang banyak dan tidak ada yang sanggup mengampuni kecuali Engkau Ya Allah. Maka ampuni aku dan kasihi aku karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
ISLAM KEBENARAN MUTLAK
05.07
Dimas
Sumber : Yusuf Mansur Network
Islam datang untuk mengeluarkan manusia dari lalimnya berbagai agama menuju keadilan Islam. Artinya, seorang muslim yang benar imannya tidak pernah beranggapan apalagi berkeyakinan bahwa semua agama sama baiknya dan sama benarnya. Ia yakin bahwa Allah ta’aala tuhan semesta alam tidak mungkin membiarkan manusia dalam kebungungan memilih jalan hidup yang benar untuk menghantarkan dirinya menuju keselamatan di dunia dan akhirat.
Sedangkan orang yang berfaham pluralisme adalah manusia yang bingung memilih jalan hidup sehingga untuk gampangnya ia katakan bahwa semua agama sama baiknya dan sama benarnya. Andaikan kita hidup tanpa petunjuk dari Yang Maha Benar mungkin kita juga akan sependapat dengan logika berfikir seperti itu. Karena itu berarti bahwa tidak ada fihak manapun di dalam masyarakat yang berhak meng-claim bahwa agamanyalah yang memiliki monopoli kebenaran. Tetapi Allah ta’aala bantah pandangan seperti ini melalui firman-Nya:
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ
”Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS Al-Mu’minun ayat 71)
Agenda Harian
04.33
Dimas
Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan
1. Agenda pada sepertiga malam akhir
a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,
b. Menunaikan shalat witir
c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh
Rasulullah saw bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)
1. Agenda pada sepertiga malam akhir
a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,
b. Menunaikan shalat witir
c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh
Rasulullah saw bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)
Selalu Ada Pertolongan Allah
22.59
Dimas
Oleh : Dhiya'ur Rahman
Sumber :At-Tadzkir.org
Taqwa itu ada di sini. Itu sabda Nabi SAW dalam hadits riwayat Muslim, dimana beliau bersabda sambil menunjukkan dadanya. Hal ini juga didukung oleh firman Allah SWT “ Dan barang siapa mengagungkan syiar Allah SWT, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.”
Islam itu bersifat lahir dan iman itu ada di dalam hati. Allah SWT memerintahkan para hambaNya untuk menegakkan syariat Islam dalam lahir mereka dan hakekat iman dalam batin mereka. Islam tidak akan bermanfaat kecuali jika diikuti oleh keimanan batin, sebaliknya setiap hakekat batin tidak ada gunanya tanpa melaksanakan syariat Islam. Sholat, puasa dan zakat tanpa didasari keimanan terhadap Allah tidak ada bedanya dengan orang yang beragama non Islam. Sebaliknya, yakin saja terhadap Allah tetapi tidak pernah mau melaksanakan sholat, puasa dan zakat tidak bisa dibilang beriman…
Seiring dengan perjalanan hidup seseorang, terpaan ujian dari Allah membuat sebuah ketaqwaan menipis bahkan terkikis habis oleh masalah keduniawian. Banyak sekali orang yang telah bersyahadat “ Laa illa haa Illaalah “ meletakkan syahadatnya karena kebutuhan perut yang menuntut diisi dan ia berbalik menghujat Allah. Atau nafsu memiliki kedudukan membuat seseorang meninggalkan sholatnya beralih ke dukun untuk meminta pertolongan atas hajatnya.
Siapa sesungguhnya yang kuasa atas segala sesuatu?
Sakit saja kita pergi ke dokter,percaya pada dokter bahwa dengan berobat kita bisa segera mendapatkan obat untuk kesembuhan kita. Tapi mengapa ketika kita ditimpa permasalahan kita tidak datang langsung pada Allah? Dia yang menghendaki segala sesuatu terjadi atas kita, jika ada yang terjadi terasa menindih kita, bahkan kita merasa tidak mampu mencari jalan keluarnya.. Mengapa bukan Allah pihak pertama yang mendengarkan segala keluh kesah dan problema kita? Ini berarti rasa percaya kita pada Allah tidak sebesar rasa percaya kita pada seorang dokter. Lantas benarkah hal ini untuk seorang yang mengaku Islam dan beriman?
Cobaan hidup memang terus akan menggiring kita pada jurang kekufuran, kecuali jika kita terus berpegang teguh pada tali Allah. Ikhtiar yang tidak sedikit terkadang tetap kalah dengan hasil yang tidak sesuai dengan keinginan manusia, membuat yang haram menjadi halal, yang putih jadi hitam dan pada akhirnya lunturlah ketaqwaan yang pernah ada dalam hati, naudzubillah..
Allah Ya Fatah.. Allah Ya Rahman
Seburuk apa kejadian yang menimpa kita, sesulit apa persoalan yang membelit kita..
Akan ‘selalu’ ada pertolongan Allah, bagi orang-orang yang percaya pada kuasa Allah, tidak pernah putus asa dan terus berikhtiar mencari jalan keluar, terus bertaqwa di jalanNya.
Keep Iman & Taqwa Friend's :D
40.000 Orang Baik Yang Dimusnahkan Allah
20.28
Dimas
Hudzayfah r.a. berkata:
Akan datang suatu zaman dimana bangkai keledai lebih mereka sukai daripada orang mukmin yang mengajak mereka berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.
Allah mewahyukan kepada Yusa bin Nun a.s.
“Aku akan membinasakan 40.000 orang baik dan 60.000 orang jahat diantara kaummu.” Yusa bertanya “Wahai Tuhanku,tentang orang yang jahat aku memaklumi. Akan tetapi bagaimana dengan orang yang baik?” Allah menjawab :”mereka tidak membenci apa yang Aku benci,serta membiarkan kemungkaran terjadi.”
Barangsiapa melihat kemungkaran,ubahlah dengan tangan.Jika tidak mampu,ubahlah dengan lidah.Jika masih tidak mampu ubahlah dengan hati,tetapi ini selemah-lemahnya iman.Yakni tindakan paling lemah dari orang yang beriman.Demikian sabda Nabi SAW.
Allah SWT berfirman:
Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa,dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
(Al-Maidah 2)
“Dan orang-orang yang beriman,laki-laki dan perempuan,mereka menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran..(At Taubah 71)
Orang mukmin berwatak mengajak dalam kebaikan. Orang yang meninggalkan watak itu bukan bagian dari mereka yang dijelaskan dalam ayat ini.
Aisyah r.a.meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:
Allah mengazab penghuni kampung yang disitu mereka mengerjakan 18.000 perbuatan para nabi.
Para sahabat bertanya “Bagaimana bisa demikian?” Nabi SAW menjawab “mereka tidak mengajak dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran”













Nama saya Dimas Yanuar Permadi pemilik Dimas Dhiyau'ur Rahman Blog saya melakukan kegiatan Blogging untuk menambah Ilmu dan memeberi Ilmu pada Anda...


