Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 33:59).


Personal
Hobbies Blogs - Blog Rankings Web Directory
Top Blogs blog-indonesia.com

Perisai Diri it's My Style

(16 Januari 2011) Ini adalah moment dimana saat itu diadakan syuro' mengenai keorganisasian dan dilanjutkan dengan pengaplikasian/penerapan serta pembenaran sikap yang dibimbing langsung oleh Dewan Pendekar

Class Meet Kelas X(X-4)

Moment ini diambil saat class meet kelas X,ini sedang beristirahat melepas lelah setelah tanding futsal dengan kakak kelas S-2 yang kelasku habis dibantai dengan skor 6-1

We are the Champion

Team futsal kebanggan kelas Sinfony(Science Four Community) yang beranggotakan Denta,Dimas,Hendi,Herlambang,Rega,Nugroho,Rizal,Shella,Tabah dan Jeff yang Alhamdullilah atas Ridhlo Allah SWT bisa mempertahankan gelar juara 1 Classmeet Futsal 2x berturut-turut

Pentas Seni SMANESA Season II

Moment ini diambil saat aku masih kelas XI tepatnya XI-A4, Salah satu kenang-kenangan yang indah

Keluarga Besar Kampung Sinfony

Keluarga besar sinfony saat merayakan kemenangan classmeet futsal semester 2

www.voa-islam.com
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Maaf,Kecantikanmu Musibah Bagiku

dakwatuna.com

Ukhti, saudariku,
kau cantik, ku akui itu
karena memang kau terlahir untuk itu
walau relatif kecantikanmu
tergantung hak individu

Ku tahu kecantikanmu anugerah
dari Tuhanku dan Tuhanmu
tapi, bukankah Tuhanku dan Tuhanmu
punya aturan untuk itu

Kau harus menjaganya
dari mata lelaki jalang
yang belum halal
baginya dan bagimu

Tahukah kau itu
atau kau sama sekali tak tau
atau pura-pura tak tau
atau tak mau tau soal itu

Tuhanku dan Tuhanmu
memberi instruksi untukmu
ulurkan kain ke seluruh tubuhmu
biar kau tak diganggu

Tuhanku dan Tuhanmu
juga ada instruksi untukmu
jangan nampakkan perhiasanmu
panjangkanlah kain itu ke dadamu

Tuhanku dan Tuhanmu
menambah instruksi untukmu dan untukku
tundukkan pandanganmu
agar hati kita tak berdebu

Namun, kenapa kau
tak gubris instruksi itu
dengan kau
umbar auratmu

kau hiasi aurat itu
agar mata lelaki terayu
mengakui cantikmu
indah bentuk tubuhmu

bagaimana aku menjaga nafsu
kalau kau umbar aurat selalu
aku sama sekali tak menyalahkanmu
karena ini lemahku
di depan sang nafsu

Tapi, mungkin lebih mudahku
membendung sang nafsu
kalau kau membantu
dengan menutup auratmu

karena ku bukan malaikat
bukan juga iblis terlaknat
imanku bisa melesat mendarat
bisa juga melusut melarat

hari ini, ku menjadi tuan nafsu
namun besok, mungkin nafsu memperbudakku
ku takut lirikan itu
menambah saldo dosa- dosaku

semoga kau menyadari itu
wahai ukhti saudariku
demi kebaikanku dan kebaikanmu
demi hatiku dan hatimu yang berdebu
karena noda- noda pandangan itu

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19452/maaf-kecantikanmu-musibah-bagiku/#ixzz1q5y

Membongkar Keburukan Munafiqin

oleh Hartono Ahmad Jaiz

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Dalam kesempatan yang mulia ini akan kami kemukakan betapa bahayanya kaum munafiqin terhadap Islam dan Ummat Islam. Makar-makar dan kejahatan mereka telah dibongkar oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, di antaranya agar Ummat Islam berwaspada. Di antaranya Allah berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ [المجادلة/14]
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan pula dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.” (Al-Mujadilah: 14).
Ibnu Katsir menjelaskan, Allah Ta’ala berfirman dengan mengingkari munafiqin dalam bertemanan di dalam batin dengan orang-orang kafir, sedangkan mereka (munafiqin) pada perkaranya itu sendiri tidak bersama kafirin dan tidak pula bersama mukminin. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَلَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا [النساء/143]
“Mereka (munafiqin) dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (An-Nisaa’: 143).
Dan Allah berfirman di sini:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman?” yakni orang-orang Yahudi yang dijadikan pemimpin dan teman akrab oleh orang-orang munafiq dalam batinnya.
Kemudian Allah berfirman:
مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ
“Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan pula dari golongan mereka.”
rtinya mereka yang munafiq itu sebenarnya bukanlah termasuk golonganmu wahai orang-orang yang beriman, dan tidak pula termasuk orang-orang yang mereka jadikan pemimpin/ teman akrab yaitu orang-orang Yahudi. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, hal 394).
As-Suddy dan Muqatil berkata: “Ayat ini turun menyangkut diri Abdullah bin Ubay bin Salul dan Abdullah bin Nabtal, dua orang munafiq. Salah seorang di antara keduanya duduk-duduk bersama Nabi SAW, kemudian ia melaporkan ucapan beliau kepada orang-orang Yahudi. ( Al-Qahthany, Al-Wala’ wal Bara’, hal 148).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, perlu diketahui, orang munafiq adalah orang yang menampakkan dirinya sebagai orang beriman, namun sebenarnya memendam kekafiran dan rasa benci terhadap Islam di dalam hati. Orang munafiq itu sangat membahayakan, sehingga aneka sifat buruk mereka dan kecaman Allah dituangkan dalam berbagai surat. Bahkan ada surat khusus yang dinamai Surat Al-Munaafiquun.
Mereka di akherat nanti akan berada di tingkatan paling bawah dari neraka, sebagaimana firman Allah:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا [النساء/145]
“Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (An-Nisaa’/4 : 145).
Muhammad bin Sa’id bin Salim Al-Qahthany dalam kitabnya, Al-Walaa’ wal Baraa’ fil Islaam berkomentar: “Orang-orang kafir dan yang menampakkan permusuhannya terhadap Islam justru lebih ringan siksanya daripada orang-orang munafiq, karena orang kafir berada di tingkat lebih tinggi dalam neraka. Kedua golongan ini (kafir dan munafiq) bersatu dalam kekafiran dan permusuhannya terhadap Allah serta Rasulullah.
Namun orang-orang munafiq lebih parah daripada orang-orang kafir, karena pada diri munafiqin ada kedustaan dan kemunafikan. Bencana yang mereka timpakan terhadap kaum Muslimin lebih besar daripada bencana yang ditimpakan oleh orang-orang kafir. Maka Allah berfirman tentang munafiqin:
هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ [المنافقون/4]
“ Mereka itulah musuh yang sebenarnya, maka waspadalah terhadap mereka.” (Al-Munaafiquun: 4).
Bahaya orang-orang munafiq yang bercampur dan bergaul dengan orang-orang Islam—padahal di dalam hatinya terdapat permusuhan kepada agama Islam—jauh lebih besar daripada bahaya orang-orang yang menampakkan permusuhan. Sebab peperangan dengan golongan kedua (musuh yang nampak terang-terangan) bisa dilakukan sehari atau dua hari atau beberapa hari, kemudian berakhir dengan kemenangan. Tetapi dengan orang-orang munafiq? Mereka bergaul bersama di dalam perkampungan, di rumah, pagi dan sore, lalu mereka membocorkan rahasia kepada musuh, mengintai untuk mencari titik kelemahan, tapi tidak bisa menghadapi mereka lewat pertempuran frontal. Sementara itu, bergaul dengan mereka hanya akan menimbulkan aib, mencintai mereka akan memancing kemarahan Allah, dan bahkan akan menyeret ke neraka. (Lihat Muhammad bin Sa’id bin Salim Al-Qahthani, Al-Wala’ wal Bara’ fil Islam, diterjemahkan menjadi Loyalitas Muslim terhadap Islam—Pemahaman Aqidah Salaf--, Ramadhani, Solo, cetakan ketiga, 1994, halaman 144-145).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, betapa dahsyat bahaya Munafiqin itu.
Tindakan-tindakan munafiqin sebagai musuh terbesar Islam jelas sangat membahayakan Islam wal Muslimin.
1. Tindakan munafiqin yang paling berbahaya adalah persekongkolan mereka dengan Yahudi dan Nasrani untuk menyerang Islam. Busuknya tingkah munafiqin ini telah dibongkar langsung oleh Allah SWT di beberapa ayat, di antaranya seperti tersebut di ayat (QS Al-Hasyr/59: 11) dan (Al-Mujadilah: 14). Yakni bersekongkol dengan kaum yang dimurkai Allah, lagi berdusta.
2. Sifat munafiqin yang paling buruk adalah menolak berhakim kepada syari’at Allah, tetapi berhakim kepada thaghut. (lihat QS An-Nisaa’ 60-63, An-Nur: 47-50). Thaghut ialah orang yang selalu memusuhi Nabi dan kaum Muslimin. Juga orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. Dan berhala-berhala pun termasuk thaghut.
Sifat dan sikap munafiqin itu berbalikan dengan sikap orang mukmin:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [النور/51]
“Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan: “kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51).
3. Orang munafiqin itu melemahkan barisan Muslimin dan menjadi mata-mata kafirin. Allah berfirman, yang artinya:
الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [آل عمران/168]
“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut berperang: “Sekiranya mereka mau mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” (Ali Imran: 168).
Terjadi kegoncangan yang mengangetkan dalam barisan kaum Muslimin ketika Perang Uhud (3 H), karena sepertiga (300 orang) dari jumlah pasukan Muslimin (1000 orang) menarik diri. Pasukan yang menarik diri (300 orang) ini dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Padahal jumlah musuh yakni kafirin Quraisy 3.000 orang dipimpin jago perang Khalid bin Walid yang masih kafir.
Begitu pula penolakan munafiqin untuk bergabung dalam perang Tabuk (9H, perang besar antara Muslimin pimpinan Rasulullah 30.000 orang melawan Nasrani Rumawi) serta keengganan-keengganan lain-lainnya. Allah menjelaskan tentang wala’ (loyalitas) mereka terhadap orang -orang kafir:
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا [النساء/138، 139]
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafiq bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan milik Allah.” (QS An-Nisaa’: 138-139).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, betapa Beda jauh antara Mukminin dan Munafiqin. Perbedaan itu di antaranya
1. Dalam perang Ahzab atau perang Khandaq (tahun 5 Hijriyah, persekutuan kabilah-kabilah Arab kafir dan Yahudi mengepung dan memerangi Muslimin Madinah) tampak nyata perbedaan sikap antara Mukminin dan Munafiqin.
Orang Mukminin berkata sebagaimana dikisahkan oleh Allah SWT:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا [الأحزاب/22]
“Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya (yaitu kemenangan sesudah mengalami kesukaran) kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (Al-Ahzaab/ 33:22).
Adapun orang munafiqin keadaan mereka dikisahkan oleh Allah SWT:
وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا (12) وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَأْذِنُ
فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا [الأحزاب/12، 13]
“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang berpenyakit di dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.” (QS Al-Ahzaab/ 33:12-13).
2. Sikap beda jauh itu juga terkuak dalam perang Tabuk (9H perang besar antara Muslimin pimpinan Rasulullah 30.000 orang melawan Nasrani Rumawi).
Allah SWT berfirman tentang ahli munafiq:
فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ (81) فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [التوبة/81، 82]
“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) ini merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” . Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas (nya)”, jikalau mereka mengetahui.
Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS At-Taubah/ 9:81-82).
Allah SWT berfirman tentang orang yang beriman:
لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (88) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [التوبة/88، 89]
“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itula (pula) orang-orang yang beruntung.
Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”
(QS At-Taubah/ 9:88-89).
Jama’ah jum’ah rahimakumullah, Al-Quran telah membongkar keburukan munafiqin.
Allah SWT membongkar keburukan munafiqin dalam Al-Quran di berbagai surat, bahkan surat At-Taubah disebut Surat Al-Fadhihah karena surat itu isinya membongkar keburukan munafiqin. Keburukan munafiqin di antaranya;
  1. Tidak ikut berjihad, mereka lebih mementingkan dunia (lihat At-Taubah: 86-87).
  2. Mengadu domba, marah, dan memfitnah (lihat At-Taubah: 47-48).
  3. Mencela sistem Rasulullah dalam pembagian harta, mereka rela dan marah tergantung kepentingan dunia mereka. (lihat At-Taubah: 58).
  4. Menyakiti Rasulullah SAW (lihat At-Taubah: 61).
  5. Minta maaf atau keridhaan Rasulullah dengan sumpah palsu, padahal Allah dan Rasul-Nya itu yang lebih patut untuk mereka cari keridhaannya. (lihat At-Taubah: 62).
  6. Memerintahkan kemunkaran dan mencegah kebaikan, serta pelit berinfaq di jalan Allah. (lihat At-Taubah: 67).
  7. Mengingkari janji (lihat At-Taubah 75-77).
  8. Mencela dan mencibir Mukminin dalam segala hal (lihat At-Taubah: 79).
  9. Memandang berinfaq itu suatu bentuk yang merugikan, dan mereka menunggu-nunggu datangnya marabahaya atas mukminin. (lihat At-Taubah: 98).
  10. Al-Quran tidak menambah pada mereka kecuali hanya menambah kekafiran di atas kekafiran yang telah ada pada mereka. (lihat At-Taubah: 124-125).
  11. Berpaling dan lari dari kebenaran. (lihat At-Taubah: 127).
Jama’ah jum’ah rahimakumullah, bagaimana Metodenya dalam menghadapi Munafiqin sudah ada tuntunannya dari nAllah. Di antaranya:
1. Allah memerintahkan jihad dan bersikap keras terhadap mereka.
2. يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ [التوبة/73]
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (At-Taubah: 73).
Allah memerintahkan tidak bersikap lembut terhadap munafiqin bahkan memerintahkan berjihad melawan mereka dan bersikap keras atas mereka. Sementara itu Allah SWTmemerintahkan bersikap lunak dan hormat terhadap mukminin.Sungguh Allah telah berfirman, yang artinya:
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ [الشعراء/215]
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’araa’/ 26: 215).
2. Tidak memintakan ampun kepada munafiqin. Karena mereka tidak berhak dimintakan ampun. (lihat At-Taubah: 80, Al-Munaafiquun: 6).
Sementara itu Allah memerintahkan Nabi SAW (dan mukminin) untuk memintakan ampun orang mukminin yang benar. (lihat QS Muhammad:19, dan Al-Mumtahanah: 12).
3. Allah melarang Nabi SAW (dan Mukminin) menshalati jenazah munafiq, dan melarang berdiri (mendo’akan) di kuburnya (lihat at-Taubah: 84).
4. Allah melarang Nabi SAW (dan mukminin) bergabung dengan munafiqin dalam berperang dan melarang membolehkan mereka ikut berperang. (lihat At-Taubah: 82)
Manhaj Islam adalah mengobarkan semangat jihad kepada mukminin secara umum dan mendorong mereka untuk berperang melawan orang kafir sebagaimana Allah telah berfirman, yang artinya:
“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksa(Nya). (QS An-Nisaa’: 84).
Perbedaan tegas antara manhaj terhadap mukminin dan manhaj terhadap munafiqin itu karena sifat-sifat dan sikap antara keduanya jelas jauh berbeda. Maka Islam tegas-tegas membedakannya dalam menyikapi yang mukmin di satu pihak dan yang munafq di pihak lain. Tidak boleh dicampur aduk.
Semoga kita Ummat Islam dihindarkan dari bahaya orang-orang munafiqin, dan diselamatkan dari perbuatan yang mengikuti munafiqin. Dan semoga Allah selamatkan Ummat Islam ini dari aneka keburukan yang ditimbulkan oleh kaum munafiqin di mana-mana pun adanya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.
أَمَّا بَعْدُ؛ وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Seutas Tali Kebersamaan

Oleh Fathelvi Mudaris
Seutas tali, yang bahkan beban berat pun dapat diikatnya, tetaplah merupakan kumpulan dari benang-benang kecil pada awalnya. Kumpulan benang-benang yang terjalin begitu eratnya, lalu kemudian membentuk ikatan tali yang sangat kokoh.
Ada banyak ton berat yang mampu diangkatnya. Dapatkah selembar benang kecil melakukannya? Ah, tentu saja tidak. Ia hanya akan kuat jika telah terjalin bersama. Meskipun ia pada awalnya sama, hanya selembar benang kecil…
Begitulah jalan da’wah ini… Sungguh, kekuatannya terletak pada amal jama’i nya. Bukankah domba yang sendirian dan terpisah dari romobongannya lebih gampang diterkam srigala dari pada domba yang bersama-sama?
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar (Qs. At-Taubah : 111)
Maka… Di mana pun posisinya, apapun itu…meski bagi ‘mereka’ kau hanya sebutir debu yang tiada berarti apapun, tetaplah…tetaplah di jalan da’wah ini. Karena, kita berbuat, bukan karena ‘mereka’, tapi…karena Allah saja. Maka, cukuplah Allah saja… Cukuplah Allah saja yang menilai…
Karena—sekali lagi—ini tak memiliki korelasi antar sesama manusia, melainkan dengan-Nya! Karena, ini bukan soal “di mana posisimu dan sebesar apa prestise amanahmu”, tapi, soal “kontribusi apa yang kamu berikan, dengan segenap kemampuan yang kau punya.” Karena, amanah bukan prestise. Bukan!
Percayalah, bahwa kualitas diri seseorang tak berbanding lurus dengan amanahnya. Kualitas diri itu, tergantung sejauh mana kedekatannya dengan Rabb dan seoptimal apa upayanya dalam melaksanakan segenap tugas da’wah…
Tidakkah kita belajar dari sosok-sosok sederhana yang luar biasa itu? Tidakkah?? Mereka, adalah orang-orang yang bahkan “tak terlihat” oleh ‘mereka’. Tapi lihatlah, komitmennya! Lihatlah bagaimana mereka selalu berupaya untuk menebarkan kebaikan…kebaikan..kebaikan…sekali lagi kebaikan! Pandangilah kesejukan mereka…, mereka yang bahkan --sekali lagi--“tak terlihat” oleh ‘mereka’, tapii, sungguh memandang mereka membuat kau takjub dan ingat pada-Nya. Maka, sekali lagi…, ini bukan soal prestise! Tapi.., soal kontribusi.
Tetaplah…tetaplah…, tetaplah di jalan ini… Meski kita hanya selembar benang yang terletak di paling terperosok sekali pun. Yang bahkan tak satu pun yang melihat…, karena satu keyakinan yang mesti kita punya, bahwa Allah selalu melihat! Dan bahwa cukuplah Allah saja yang menilai upaya kita.
Ah, jika bukan Allah tujuannya, jika bukan akhirat muaranya, jika bukan keikhlasan yang menguatkan niatnya, jika ada kekecewaan di dalamnya , jika ada dendam di setiap perbedaannya dan jika ada penolakkan di setiap keputusannya, maka sungguh da’wah ini takkan terasa manis. Justru akan terasa jumud dan membosankan. Karena da’wah hanya akan memilih orang-orang yang loyal dan memegang komitmen terhadapnya. Laiknya pionir catur yang tak pernah mundur. Ia akan terus bergerak maju!
Ya Allah, jadikan kita bagian berpegang teguh pada jalan-Mu ya Rabb…
www.fathelvi.blogspot.com

Untuk Semuanya

Lahir dalam keadaan fitrah, orang tua dan lingkungan yg mewarnai kehidupan kita...
biru, hijau, coklat, hitam, merah, kuning, beraneka warna kehidupan telah tercipta...seiring berjalan waktu kurenda masa depan ku, berharap secerah mentari pagi siang ini, ya Rabbi terangilah hidup ku dengan cahaya-Mu.
dari mulai tangisan pertamaku didunia ini, merangkak, berjalan, pandai bicara, dari kanak-kanak, remaja, hingga sekarang menginjak usia dewasa...
apa yg sudah kulakukan dengan diriku...sudah ku bawa kemana diri ini...
dekatkah dengan Mu??rasa nya kok sekarang makin jauh...sholat ku, do'aku, tilawahku, dan hari ini aku lupa bawa matsuratku...Rabb..jangan lepas kan tanganku...
tak sanggup hidup tanpa-Mu...kemana aku harus mengadu, selain pada-Mu...

Rabb, apa yg telah aku perbuat selama 17 tahun ini...maaf kan aku yg telah lama bermain2 dengan umur ku..Rabb bentar lagi umur ku 18 th, jangan biarkan aku sama dengan tahun sebelum2nya...maaf kan aku telah lalai sebelumnya...Rabb, kuatkan aku untuk selalu menempuh jalan mu yg lurus...maafkan aku Rabb, tak sanggup aku masuk keneraka mu...dan tak pantas pula aku kesurga-Mu...jadikan umurku yg akan datang bermanfaat buat keluarga dan agama-Mu...

Rabb, maafkan aku yg telah mengabaikan ortu ku...sungguh bukan aku tidak bersyukur pada-Mu punya ortu seperti mereka, tapi mereka tidak mau menerima pemberian ku....Rabb, kabulkanlah setiap do'aku untuk mereka sebagai pengganti jasa mereka yg tak terbalas....buat saudara-saudara ku, limpahkan ya Rabb hidayahMu pada mereka, jangan biarkan mereka ikut hancur seperti hancurnya zaman ini, aku serah mereka semua pada -Mu ya Rabb..tiada daya dan kekuatan ku selain daya dan kekuaran dari -Mu...

Ampuni hamba -Mu yg lemah ini ya Rabb...
masukanlah aku kesibgahMu yg mulia....

AHLAN WA SAHLAN YA RAMADHAN

AHLAN WA SAHLAN YA RAMADHAN
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Kaum muslimin dan muslimat yang dicintai dan dirahmati Allah !
Waktu begitu cepat berlalu, bulan demi bulan terus berjalan, dan - insya Allah – sebentar lagi kita menyambut datangnya bulan Ramadhan 1431 H. Bulan diwajibkan berpuasa bagi orang-orang beriman sebagai tarbiyah untuk mengantarkan mereka ke derajat muttaqiin.. Puasa bermakna imsak atau menahan diri dari makan, minum dan segala sesuatu yang membatalkannya dari waktu fajar sampai tenggelam matahari. Esensi puasa bermakna pengendalian diri dari hal-hal yang merusak dan dari memperturutkan selera hawa nafsu. Dan di antara hikmah dari ibadah Ramadhan adalah adanya kebersamaan saat ifthor dan saat memulai puasa, kebersamaan dalam ibadah shalat Fardhu dan shalat Tarawih serta kebersamaan dalam aktifitas ibadah lainnya. Kebersamaan ini juga diharapkan terjadi pada penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri. Kesiapan bersatu dalam hal yang prinsip adalah bentuk kematangan dalam beragama, sebagaimana kesiapan berbeda dalam cabang agama adalah bentuk toleransi dan kedewasaan dalam beragama. Bulan Ramadhan datang pada saat umat muslim membutuhkan kekuatan iman dan ruhiyah untuk menghadapi kondisi sulit dan berat dalam kehidupan mereka. Dan dengan datangnya bulan Ramadhan, Allah SWT. memberikan tambahan energi kekuatan iman dan ruhiyah, sehingga posisi mereka meningkat naik jauh melebihi permasalahan yang dihadapinya. Maka dalam suasana keimanan dan ruhiyah yang kuat, umat muslim dapat sukses mengatasi segala
permasalahan hidupnya. Bulan Ramadhan tahun ini, kondisi umat muslim di dunia Islam masih memprihatinkan, terutama di Palestina yang masih terjajah, masjidil Aqso di bawah cengkraman penjajah Zionisme Yahudi. Upaya relawan Internasional untuk menembus blokade Israel terhadap Gaza masih menemui hambatan yang besar. Dengan dibombardirnya relawan Internasional diatas kapal Mavi Marmara, Zionisme Israel telah membuktikan dirinya bukan hanya menjadi musuh
umat Islam, tetapi musuh umat manusia se dunia. Kondisi negeri muslim yang lain seperti di Irak, Afghanistan, Mesir, Pakistan, Tunisia dll. Mesih
sangat memprihatinkan. Mereka belum mendapatkan hak kemerdekaannya secara sempurna. Sementara itu umat muslim yang tinggal di negara-negara minoritas muslim, seperti, Cina, India, Thailand, Burma, Philipina, negara-negara Eropa dan Amerika, masih jauh dari nilai-nilai ideal.
Sedangkan di dalam negeri Indonesia masih sibuk mengurusi problem internal dalam negeri, seperti mahalnya kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan.
Dalam suasana seperti ini, bulan Ramadhan datang. Bulan Ramadhan bukan untuk membuat umat muslim lemah, lesu dan tidak berdaya, karena melaksanakan ibadah shaum, tilawah Al-Qur’an dan Tarawih. Tetapi Ramadhan harus membuat umat muslim lebih kuat, bersatu, bersemangat, berani dan berjihad membebaskan dominasi musuh-musuhnya, baik musuh berupa syahwat dan syetan maupun musuh dari orang-orang kafir yang mengadakan kerusakan di muka bumi. Demikianlah yang terjadi dalam perjalanan sejarah umat muslim di bulan Ramadhan. Memasuki momentum Ramadhan yang sangat baik ini, umat muslim harus mempersiapkan diri dengan baik sehingga Visi Ramadhan dapat tercapai, yaitu terealisirnya ketaqwaan. Ketaqwaan yang sebenarnya diseluruh lapangan kehidupan. Ketaqwaan di rumah, di masjid, di kantor, di
sekolah dan kampus, di pasar, dan ketaqwaan dimana saja kita berada. Ketaqwaan inilah yang melahirkan keberkahan dari langit dan bumi, pembuka pintu rahmat Allah SWT dan jalan keluar
dan solusi atas segala krisis multidimensional. “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al-A’raaf 96). Pada saat yang sama, krisis inilah yang menimpa umat manusia, krisis keimanan dan ketaqwaan. Maka terjadilah krisis susulan, seperti ; pembunuhan atas manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas, aborsi dan pornografi, penggunaan NARKOBA dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, KKN, penganiayaan dan kezhaliman serta pelanggaran lainnya. Demikian juga musibah demi musibah tidak kunjung berhenti. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut harus dimulai
dari akar krisis dan akar permasalahannya. Solusi atas krisis secara horizontal harus dimulai dengan mendidik manusia menjadi insan bertqwa sehingga mampu menahan diri dari pelanggaran-pelanggaran dan tunduk pada Allah dan hukum Islam. Dan solusi krisis secara vertikal dengan menegakkan Syari’ah Islam dalam masyarakat dan pemerintah sehingga mereka takut akan sanksi dan tidak melanggar larangan-Nya. Syari’ah Islam memberi rahmat bagi manusia, menjamin hak beragama, hak
hidup, hak pemilikan harta, hak berfikir dan berpendapat, hak terpeliharanya kehormatan dan keturunan. Kesinilah langkah harus ditujukan, pikiran dicurahkan, gerakan reformasi diarahkan, segala tenaga dikerahkan.
Marilah kita mempersiapkan dan memasuki bulan Ramadhan dengan bekal yang maksimal, bekal ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah. Persiapan ruhiyah dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, do’a dll. Persiapan fikriyah dengan mendalami ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Dan persiapan jasadiyah dengan menjaga kesehatan, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Menyiapkan harta yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang terbaik (sayyidusyuhur), dan mengandung seluruh
sebutan, nama dan makna yang baik, oleh karenanya umat muslim harus meningkatkan semua potensi kebaikannya di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan puasa (Syahrus Siyam), bulan ibadah (Syahrul Ibadah), bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an), bulan ampunan dan kembali (Syahrul Maghfirah wal Inabah) bulan kepedulian dan solidaritas (Syahrul Muwaasaah), bulan pembinaan (Syahrut Tarbiyah), bulan jihad (Syahrul Jihad), bulan kesabaran (Syahru Shabr) bulan ketaqwaan (Syahrut Taqwa) dll.
Bulan Ramadhan sebagai bulan puasa (Syahrus Siyam), berarti umat muslim harus berpuasa dengan baik dan meningkatkan ibadah puasanya. Melaksanakan ibadah puasa (shaum) dengan hati yang ikhlas dan penuh pemahaman serta memperhatikan segala adab dan sunnah-sunnahnya. Para ulama berpendapat bahwa berpuasa memiliki tingkatan-tingkatan, maka puasa kita harus terus meningkat dari tahun-ketahun. Puasa bukan hanya menahan makan, minum dan yang membatalkan dari terbit fajar sampai tenggelam matahari, tetapi puasa dari segala yang diharamkan Allah, dan puasa yang dapat mengantarkan pada ketaqwaan. Bulan Ramadhan merupakan bulan ibadah (Syahrul Ibadah), bulan yang sangat kondusif untuk meningkatkan ibadah, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan syetan dibelenggu. Semua ibadah di bulan ini pahalanya dilipatgandakan. Siangnya diisi dengan siyam, malamnya diisi
dengan qiyam (sholat tarawih) .Dan diantara waktu siang dan malam diisi dengan tilawah, dzikir, do’a dan ibadah lainnya. Puncak ibadah Ramadhan ketika memasuki 10 hari terakhir, orang beriman sangat dianjurkan untuk beri’tikaf di masjid. Bahkan Allah berikan salah satu malam, yaitu Lailatul Qodar (malam kemuliaan) lebih baik dari 1000 bulan. Rasulullah saw bersabda:
"Sungguh, telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu setan-setan. Di dalam Ramadhan terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tak berhasil memperoleh kebaikan Ramadhan sungguh ia tidak akan mendapatkan itu buat selama-lamanya." (Riwayat Ahmad, Nasaa'i dan Baihaqy). Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an (Syahrul Qur’an), umat muslim harus lebih bersungguh-sungguh lagi dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Berinteraksi secara utuh, baik secara tilawah, hafalan, pemahaman, pengamalan dan mengajarkan. Menumbuhkan semangat mencintai Al-Qur’an dan ahlul Qur’an, mensosialisasikan Al-Qur’an di tengah keluarga muslim dan masyarakat muslim serta menciptakan genarasi Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan dan surat yang pertama turun adalah surat al-Alaq yang berisi perintah membaca. Maka jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan pengawal
kebangkitan Islam Allah SWT. berfirman:
“Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan
memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS Al-Israa’ 9)
Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan dan kembali (Syahrul Maghfirah wal Inabah), dimana pintu ampunan terbuka lebar dan bulan kembali pada Allah dan ajaran Islam. Suatu kesempatan tahunan yang teramat mahal jika disia-siakan untuk meraih ampunan Allah dan kesempatan untuk kembali kepada Allah. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda,” Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh
keimanan dan perhitungan, diampuni dosanya yang telah lalu. Siapa yang shalat malam di Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan perhitungan, diampuni dosanya yang telah lalu”(Muttafaqun ‘alaihi) .
“Jika awal malam Ramadhan datang, syetan dan jin jahat di belenggu, pintu neraka di tutup, tidak ada satu pintupun yang dibuka, pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang ditutup, dan setiap malam penyeru berkata, “ Wahai pencari kebaikan datanglah, wahai pencari keburukan, berhentilah dan Allah memerdekakan dari api neraka, dan itu setiap malam” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim dll).
Bulan Ramadhan adalah bulan kepedulian dan solidaritas (Syahrul Muawaasaah), umat muslim harus meningkatkan kepedulian dan solidaritas di bulan Ramadhan terhadap saudaranya yang kurang beruntung dari segi ekonomi dan sosial, yang terkena musibah dan yang sedang berjihad. Lebih khusus lagi, kepedulian dan solidaritas terhadap para mujahidin, para korban perang, anak-anak yatim, ibu-ibu janda, orang tua dan semua yang terzhalimi di Palestina. Di bulan ini Rasulullah saw mencontohkan dan menganjurkan orang-orang beriman untuk memperbanyak infak, lebih khusus lagi memberi makan orang-orang yang berpuasa. "Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw, adalah orang yang paling pemurah, dan lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan ketika bertemu Jibril, beliau bertemu setiap malam bulan Ramadhan membimbing bacaan Al-Qur’an Rasul saw. Dan Rasulullah adalah orang yang sangat pemurah dalam kebaikan lebih dari angin yang berhembus” (HR Bukhari)
“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka seperti pahala orang yang berpuasa, dengan tanpa dikurangi pahala dari orang yang berpuasa tersebut sedikitpun” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)
Dan bulan Ramdhan ditutup dengan kewajiban membayar shodaqoh atau zakat Fitrah. Semua itu merupakan bentuk kepedualian sosial dalam Islam kepada kaum fakir dan miskin, apalagi
kebutuhan untuk belanja pada bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri biasanya meningkat, maka solidaritas ini sangat dituntut dari para aghniya untuk berbagi dan membahagiakan kaum fakir dan miskin. Bulan Ramadhan merupakan bulan tarbiyah (Syahrut Tarbiyah), kesempatan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seluruh orang-orang beriman, para da’i dan ulama untuk melakukan tarbiyah, dakwah dan gerakan reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan
aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dll, sampai terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan itu terus bertahan sampai bertemu Ramadhan kembali, bahkan meningkat secara kualitas dan kuantitas. Di antara keistimewaan bulan Ramadhan yaitu, bulan Jihad (Syahrul Jihad), Jihad merupakan
puncak ajaran Islam, rahasia kemulian dan kejayaan umat Islam. Sedangkan landasan jihad adalah keimanan yang kuat, kesucian dan kebersihan jiwa. Oleh karenannya semangat jihad tumbuh subur di bulan Ramadhan, dan ini adalah momentum yang sangat tepat untuk menumbuhkan ruhul jihad dalam tubuh umat Islam untuk membangkitkan kembali kemuliaan Islam dan umatnya. Sejarah telah membuktikan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan gerakan jihad. Parang Badar Al-Kubra, Fathu Makkah, Pembebasan Palestina oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, Perang Ain Jalut yang dapat menaklukkan tentara Mongol, Penaklukkan Andalusia oleh pahlawan Tariq bin Ziyaad, Kemerdekaan Indonesia dll, semuanya terjadi pada bulan Ramadhan.
Esensi dan pesan Jihad dalam Islam adalah kehidupan, kemakmuran, pencerahan, penyatuan, pendidikan, pembangunan dan perubahan yang bermuara pada peningkatan kualitas kehidupan dan peradaban Islam yang menebarkan rahmat bagi alam semesta.
Dan ciri khas dari bulan Ramadhan lainnya adalah bulan kesabaran (Syahrus Shabr),
kesabaran dalam melaksanakan seluruh bentuk ketaatan dan kebaikan, kesabaran dalam meninggalkan kemaksiatan dan kesabaran dalam menjalani ujian. Kesabaran dalam berjamaah dan beramal jamai, kesabaran dalam berkeluarga, mendidik anak dan bermasyarakat, kesabaran dalam menghadapi fitnah, kesabaran dalam berukhuwah, kesabaran dalam memberi dan menerima nasehat Pembelajaran kesabaran itu berawal dari puasa, kemudian terus meningkat sampai pada kesabaran dalam jihad, maka sampailah pada predikat muttaqin
sebagai buah dari seluruh rangkaian ibadah Ramdahan, dan inilah hakekat dari kesuksesanyang sejati. Allah berfirman:
”Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (QS Ali Imran 200).
Semoga Allah SWT menerima shiyam dan ibadah kita dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat amal, dakwah dan jihad kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia dan seluruh dunia Islam yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera dengan mendapat ridha Allah.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Relakah dirimu menjadi hiasan syaitan?

Adalah hal yang wajar apabila seorang wanita ingin terlihat cantik, asalkan ditujukan untuk suaminya sendiri. Lalu bagaimana apabila ada wanita yang ingin terlihat cantik dengan jilbabnya tapi bukan untuk dilihat suaminya? Pasang photo di FB agar semua mata memandangnya?
Duhai wanita muslimah yang merindukan Jannah, wanita macam apakah yang ingin selalu tampil cantik tapi bukan untuk suaminya?
Siapakah yang telah meracunimu sedemikian rupa?
Apakah dirimu rela menjadi hiasan syaitan?
Sungguh menyedihkan, sungguh memprihatinkan. Ingin menitik rasanya air mata ini menyaksikan polah tingkah wanita muslimah yang “berjilbab”, tetapi tidak memahami hikmah dari disyari’atkannya jilbab bagi mereka.
Dengan “sepotong” kain yang hanya menutupi rambutnya, mereka katakan telah berjilbab. Dengan “selembar” kain yang diikat-ikatkan ke lehernya, mereka katakan telah berjilbab. Yang lebih menyedihkan lagi, mereka mengenakancelana jeans ketat agar dikatakan sebagai wanita muslimah yang dinamis. Bahkan berdandan menor agar terlihat cantik sehingga rela menjadi santapan mata para lelaki hidung belang. Allahul Musta’an.
Duhai wanita muslimah, saudariku fillah. Janganlah kau jadikan dirimu sebagai fitnah bagi laki-laki yang beriman. Janganlah kau jadikan dirimu hiasan syaitan.
Bukankah kehancuran Bani Israil –bangsa yang terlaknat– berawal dari fitnah (godaan) wanita? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُوْنَ. كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوْهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُوْنَ
“Telah terlaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yang mereka lakukan.” (Al-Ma`idah: 79-78)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadapDUNIA dan WANITA, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil DARI KAUM WANITA.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya untuk berhati-hati dari fitnah wanita, dengan sabda beliau:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلىَ الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita itu aurat, maka bila ia keluar rumah, syaitan menghiasnya(dalam pandangan pria sehingga terjadilah fitnah).” (Dishahihkan Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 3109, dan Al-Irwa’ no. 273. Dishahihkan pula oleh Al-Imam Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/36)
Sungguh, fitnah wanita termasuk cobaan terbesar dan paling mengerikan bagi kaum Adam. Karena wanita, dua orang laki-laki berkelahi. Lantaran wanita, dua kubu saling bermusuhan dan saling serang. Oleh sebab wanita, darah begitu murah dan mudah diguyurkan. Karena wanita, seseorang dapat terjatuh ke dalam jurang kemaksiatan. Bahkan, karena wanita, si cerdas yang baik dapat berubah menjadi dungu dan liar.
Jarir bin ‘Athiyyah al-Khathafi bersenandung:
إِنَّ العُيُوْنَ الَّتِيْ فِي طَرْفِهَا حَــوَرٌ قَتَلْنَنَا ثُمَّ لَمْ يُحْيِيْنَ قَتْــلاَناَ
يَصْرَعْنَ ذَا اللُّبِّ حَتَّى لاَ حَرَاكَ لَهُ وَهُنَّ أَضْعَفُ خَلْقِ اللّهِ إِنْـسَاناَ
Sesungguhnya indahnya mata-mata hitam wanita jelita
Telah membunuh kita dan tiada lagi menghidupkannya
Mereka pun taklukkan si cerdas hingga tiada berdaya
Sedang mereka manusia paling lemah dari ciptaan-Nya
Duhai wanita muslimah, saudariku fillah. Simaklah baik-baik firman Allah Ta’ala berikut ini, semoga Allah Ta’ala menjauhkan dirimu dari perbuatan “ingin terlihat cantik” kepada selain suami:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرّ ُجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang awal.” (Al-Ahzab: 33)
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kalian meminta sesuatu keperluan kepada mereka maka mintalah dari balik hijab/ tabir, yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)
Sungguh kusampaikan nasihat ini kepadamu, saudariku fillah, agar dirimu tidak temasuk orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala berikut ini:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِ نِينَ
“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 8).
Modal mereka hanyalah makar dan tipu daya semata. Materi yang mereka miliki hanya dusta dan kebohongan belaka. Mereka memiliki otak materialis untuk sekedar memuaskan semua pihak, kaum mukminin dan orang-orang kafir, sehingga bisa aman berada di antara golongan mana pun. Allah Ta’ala berfirman:
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (Al-Baqarah: 9)
Hati mereka sudah dipenuhi oleh penyakit syubhat dan syahwat, sehingga membinasakannya. Tujuan-tujuan buruk telah menguasai keinginan dan niat mereka sehingga merusaknya. Kerusakan mereka telah menghantarkan kepada kebinasaan sehingga para dokter yang ahli pun tidak mampu mengobatinya. Firman Allah Ta’ala:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah: 10)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كل بني آدم خطاء. وخير الخطائين التوابون
“Setiap anak Adam itu pasti bersalah (pernah berbuat salah). Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat (kepada Allah).” (Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selain keduanya)
Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ
“Mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mereka mengikuti dengan sebaik-baiknya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang menggunakan akal.” (Az Zumar: 18)
وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلا عَظِيمًا
“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (An Nisaa’: 27)
Semoga bermanfaat….


Adab Seorang Muslim Terhadap Dirinya Sendiri

Maksudnya, orang Muslim mengkondisikan dirinya merasa diawasi Allah Ta’ala di setiap waktu kehidupan hingga akhir kehidupannya, bahwa Allah Ta’ala melihatnya, mengetahui rahasia-rahasianya, memperhatikan semua amal perbuatannya, mengamatinya, dan mengamati apa saja yang dikerjakan oleh semua jiwa. Dengan cara seperti itu, diri orang Mukmin selalu merasakan keagungan Allah Ta’ala dan kesempurnaanNya, tentram ketika ingat nama-Nya, merasakan ketentraman ketika taat kepada-Nya, ingin bertetanggaan dengan-Nya, datang menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya. Inilah yang dimaksudkan dengan Islamisasi wajah dalam firman Allah Ta ‘ala,
“Dan siapakah yang Jebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang Jurus?” (An-Nisa’: 125).
Dan yang dimaksud dengan firman Allah Te ala,
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dis orang yang berbuat kebeiken, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (Luqman: 22).
Itulah intisari seruan Allah Ta ‘ala dalam firman-Nya,
‘Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu maka takutIah kepada-Nya. “(Al-Baqarah: 235).
Atau dalam firman-Nya,
“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Our’an dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu pada waktu kalian melekukannya. “(Yunus: 22).
Atau dalam sabda Rasulullah Shallallahu Aleihi wa Sallam,
“Sembahlah Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidek bise melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. “(Muttafaq Alaih).”
Jalan itulah yang dilalui para pendahulu kita dari para salafush shalih.
Mereka membawa diri mereka kepadanya hingga akhir hayat mereka, dan mereka berhasil mencapai derajat muqarrabin (hamba-hamba yang dekat dengan Allah). Bukti-bukti berikut bersaksi untuk mereka:
1. Ditanyakan kepada Al-Junaid, “Bagaimana kiat menahan pandangan?” AI-Junaid, “Yaitu pengetahuanmu, bahwa pandangan Dzat yang melihatmu itu lebih dahulu dan lebih cepat daripada penglihatanmu kepada sesuatu yang engkau lihat.”
2. Sufyan Ats- T sauri berkata, “Hendaklah engkau merasa diawasi oleh Dzat yang mengetahui apa saja yang ada padamu. Hendaklah engkau berharap kepada Dzat yang memenuhi (harapanmu). Dan hendaklah engkau takut kepada dzat yang memiliki hukuman
3. Ibnu Al- Mubarak berkata kepada seseorang, “Hai si Fulan, hendaklah engkau merasa diawasi Allah. ” Orang tersebut bertanya kepada Ibnu Al-Mubarak tentang apa yang dimaksud dengan pengawasan Allah, kemudian Ibnu Al-Mubarak menjawab, “Jadilah engkau seperti orang yang bisa melihat Allah selama-lamanya.”
4. Abdullah bin Dinar berkata, “Pada suatu hari, aku pergi ke Makkah bersama Umar bin Khaththab. Di salah satu jalan, kami berhenti untuk istirahat, tiba-tiba salah seorang penggembala turun kepada kami dari gunung. Umar bin Khaththab bertanya kepada penggembala tersebut, ‘Hai penggembala, juallah seekor kambingmu kepada kami.’ Penggembala tersebut berkata, ‘Kambing-kambing ini bukan milikku, namun milik majikanku.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Katakan saja kepada majikanmu, bahwa kambingnya dimakan serigala.’ Penggembala yang budak tersebut berkata, ‘Kalau begitu, di mana Allah?’ Umar bin Khaththab menangis, kemudian ia pergi ke majikan penggembala tersebut, lalu membeli budak tersebut, dan mernerde~nya.
5. Dikisahkan bahwa salah seorang shalih berjalan melewati orang-orang yang sedang melempar, sedang salah seorang dari mereka duduk menyendiri dari mereka. Orang shalih tersebut pergi kepada orang tersebut, dan ingin mengajaknya bicara, namun orang tersebut lebih dahulu berkata kepadanya, “Dzikir kepada Allah itu jauh lebih nikmat.” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut, “Engkau sendirian di sini?” Orang tersebut menjawab, “Aku bersama Tuhanku, dan dua malaikat. ” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut, “Siapa yang mendahului orang-orang tersebut?” Orang tersebut menjawab, “Yaitu orang-orang yang diampuni Allah.” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut, “Di manakah jalan itu?” Orang tersebut memberi isyarat ke langit, kemudian ia berdiri dan pergi.
6. Dikisahkan bahwa ketika Zulaikha berduaan dengan Yusuf Alaihis-Salam, ia pergi ke patung, kemudian menutupnya dengan kain. Nabi Yusuf Alaihis-Salam bertanya, “Engkau ada apa? Engkau malu kepada pengawasan benda padat kepadamu, dan tidak malu kepada pengawasan Raja Teragung (Allah) kepadamu?” .
Salah seorang shalih menyenandungkan syair,
Jika Anda menyendiri dengan zaman pada suatu hari,
Anda jangan katakan, ‘Aku telah menyendiri, ‘namun katakan, ‘Zaman mengawasiku. ‘
Sedetik pun Anda jangan beranggapan bahwa Allah lengah Dan bahwa Allah tidak mengetahui apa yang Anda rahasiakan
Tidaklah Anda lihat, bahwa hari ini cepat berlalu
Dan bahwa hari esok sudah dekat bagi orang-orang yang menunggunya
sumber : Minhajul Muslim

Do'a Agar Dianugerahi Akhlak Mulia Dan Dilindungi Dari Nafsu


 Di antara do’a lainnya yang disebutkan oleh An Nawawi rahimahullah dalam kitab Riyadhush Sholihin yaitu do’a yang ringkas namun penuh makna adalah do’a berikut ini. Do’a ini berisi permintaan agar dianugerahi akhlak yang mulia, juga agar diberikan taufik untuk dapat beramal sholih.
Do’a tersebut adalah: “Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’.”
Hadits yang menyebutkan do’a tersebut adalah:
Dari Ziyad bin ‘Ilaqoh dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
“Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’ [Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar].” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih)
Faedah dari hadits dan do’a di atas:
Pertama: Dalam do’a ini kita meminta perlindungan dari akhlak yang jelek. Do’a ini mencakup kita meminta berlindung dari akhlak yang jelek dari sisi syari’at. Termasuk pula kita meminta perlindungan pada Allah dari sesuatu yang dikenal jelek secara batin.
Kedua: Do’a ini mencakup berlindung dari akhlak mungkar seperti begitu takjub dengan diri sendiri, sombong, berbangga diri, hasad dan melampaui batas.
Ketiga: Do’a ini mencakup kita berlindung pada Allah dari amalan yang mungkar, yaitu amalan yang zhohir atau ditampakkan.
Keempat: Do’a berlindung dari amal yang mungkar mencakup zina, minum khomr dan bentuk keharaman lainnya.
Kelima: Do’a ini juga mencakup meminta perlindungan pada keinginan atau nafsu yang mungkar. Dan kebanyakan hawa nafsu mengantarkan kepada kejelekan, itulah umumnya.
Keenam: Do’a berlindung dari keinginan atau nafsu yang mungkar mencakup berlindung dari aqidah yang jelek, niatan-niatan yang batil, dan pemikiran yang sesat.
Ketujuh: Do’a ini mendorong kita agar berakhlak yang mulia dan beramal yang sholih.
Semoga yang singkat ini bermanfaat.

Ketumaan Cinta Akhirat dan Zuhud Kehidupan Dunia

Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu beliau berkata, “Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).” (HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan Syaikh al-Albani).
Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan cinta kepada akhirat dan zuhud dalam kehidupan dunia, serta celaan dan ancaman besar bagi orang yang terlalu berambisi mengejar harta benda duniawi (Lihat kitab at-Targib wat Tarhiib, 4/55 karya Imam al-Mundziri).

Sholat Sunnah Taubat

Pengertian:
Shalat yang dikerjakan oleh seseorang disebabkan menyesali perbuatan maksiat (dosa) dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi

Waktu mengerjakannya:
Kapan saja merasa berdosa,baik terhadap manusia terlebih terhadap Allah maka cepat-cepatlah bertaubat,jangan sampai terlambat mengerjakan sholat taubat.

Caranya:
sebagaimana mengerjakan sholat sunnah biasa,boleh 2/4 rakaat bedanya hanya pada lafash niatnya.

Niat:
Usholli Sunnatat taubati rokataini lillahi ta’ala.
Saya niat sholat sunnah taubat 2 rakaat karena Allah ta’ala.

sesudah sholat Taubat:
Sehabis sholat perbanyak membaca istighfar,mohon ampun kepada Alla,kembali pada jalan Allah,berdzikir,dan berjanji tidak akan mengulangi lagi dosa yang diperbuat.

Doa:
Saya Mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.Dzat yang tidak ada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri,saya bertaubat kepadaNya.Wahai Allah ampunilah segala dosaku yang telah lalu,yang akan datang,yang tersembunyi dan yang tampak,Engkau lebih mengetahui daripada aku. Engkaulah dzat Yang Maha Awal dan Maha Akhir,Tidak ada Tuhan kecuali Engkau ya Allah..sesungguhnya aku telah menganiaya diri sendiri dengan dosa yang banyak dan tidak ada yang sanggup mengampuni kecuali Engkau Ya Allah. Maka ampuni aku dan kasihi aku karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


20 Tips Mengatur Diri Sendiri

1. Tunaikanlah hak-hak Allah SWT. dan mohonlah pertolongan kepada-Nya dalam setiap permasalahan hidup yang menimpa diri Anda.
“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mahan per-talangan.” (al-Fatihah ayat 5).
Apabila manusia mau memperbaiki hubungannya dengan Tuhannya, maka Allah akan memberikan kebaikan dalam setiap permasalahan hidupnya. Apabila manusia mau mengingat Tuhannya ketika dalam keadaan senang, maka Allah akan mengingatnya pada waktu dia susah. “Ingatlah Allah maka Dia akan mengingatmu.” Orang yang mengabaikan dan tidak memenuhi hak-hak Tuhannya maka ia akan lebih mengabaikan hal-hal lainnya.
“Mereka melupakan Allah laiu Allah pun melupakan mereka.”
Ada orang yang mengatakan: “Dalam hati ada sesuatu yang sifatnya tidak teratur, dan ketidakteraturan itu tidak dapat disatukan kecuali dengan meng-hadap kepada Allah. Dalam hati ada suatu kesedihan yang tidak bisa di-hilangkan kecuali dengan cinta kepada Allah. Di dalam hati ada kesedihan yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan senang karena mengetahui Allah dan bermu’amalah (interaksi) dengan-Nya dengan ikhlas.
Dalam hati terdapat kegelisahan yang tidak dapat ditenangkan kecuali dengan segera lari menghadap kepada-Nya. Dalam hati terdapat suatu kebutuhan yang tidak dapat ditutup kecuali dengan cinta kepada Allah, taubat kepada-Nya, selalu mengingat-Nya, dan memurnikan ibadah dengan sebenar-benamya kepada-Nya. Walaupun dunia dan seluruh isinya diberikan kepadanya, hal itu tidak akan dapat menutup kebutuhan tersebut selamanya.”
Jadilah Anda orang yang selalu bersama Allah, maka Allah akan selalu bersama Anda, dan ketika itu Allah tidak akan menggagalkan usaha Anda. Insya Allah.
2. Penuhilah pikiran Anda dengan ke-optimisan dan mengharap kesuksesan dengan seizin Allah. Selalulah merasa gembira dan dapat menguasai pikiran dan perasaan Anda. “Berialah kabar gembira dan janganlah membuat mereka lari dan jera.”
3. Biasakan diri membuat tujuan yang tinggi dan jelas pada setiap aktifitas.
4. Usahakan untuk selalu membuat rencana dalam segala macam permasalahan hidup, dan sebisa mungkin jauhilah terjadinya kekacauan dan langkah tanpa rencana dalam setiap pekerjaan. Susunlah usaha Anda dengan teratur dan arahkan pada tujuan yang jelas dan tertentu. Hindarilah kekacauan dalam menempuh perjalanan menggapai tujuan.
5. Usahakan agar rencana-rencana untuk mencapai tujuan itu berupa aktifitas yang dapat diraba (dapat dilakukan) dan jelas. Hindari perilaku menunda-nunda pekerjaan dan berbuat yang tidak benar.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
About The Author
Nama saya Dimas Yanuar Permadi pemilik Dimas Dhiyau'ur Rahman Blog saya melakukan kegiatan Blogging untuk menambah Ilmu dan memeberi Ilmu pada Anda...